Mengenal Mitos Dawet Jabung Ponorogo dan Legenda Suromenggolo


SURATKABAR.ID – Mitos dan legenda yang tersebar dari mulut ke mulut selalu menarik untuk disimak. Selalu ada sebab dari segala sesuatu, termasuk adat istiadat dan budaya yang sejak dulu sudah dibentuk oleh leluhur manusia. Apalagi jika mengingat Bangsa Indonesia yang kaya akan berbagai suku dan budaya. Kehidupan sosial masyarakat menjadi semakin kaya akan sejarah dan kearifan local yang diwariskan. Salah satunya adalah Mitos Dawet Jabung Ponorogo dan Legenda Suromenggolo.

“Kenapa penjual dawet Jabung Ponorogo dilarang memberikan lepeknya (alas mangkok) ke pembeli?” demikian pertanyaan yang dilontarkan awak media dari SindoNews.com, sebagaimana dikutip dari media yang sama, Jumat (27/07/2018).

Ditodong dengan pertanyaan itu, Ani (32) penjual dawet Jabung Bu Sumini di Jalan raya Trunojoyo, sebelah timur SPBU, Tambak Bayan, Kabupaten Ponorogo mendadak terdiam. Alih alih menjawab, wanita berjilbab itu bahkan melengos. Pendek kata, tak tampak pertanda bahwa dirinya akan menggubris pertanyaan tersebut.

Ani malah seperti sengaja menyibukkan diri. Di tempatnya duduk meladeni pembeli, tangannya bergerak tak henti-henti. Padahal semua pembeli sudah terladeni.

“Nanti tanya saja ke bude saya (Bu Sumini). Kebetulan beliaunya masih keluar,” jawabnya mendadak buka suara.

Baca juga: Mengungkap Rahasia Gunung ‘Pelangi’ yang Fenomenal di China dan Peru

Ruang lapak jualan itu tidak lebar. Bahkan luasnya cenderung sempit. Berbentuk leter U dengan posisi penjual di tengah, di sisi kanan kiri serta depannya membujur bangku panjang untuk duduk pembeli. Bangku yang memuat maksimal untuk lima orang dewasa.

Kendati akhirnya merespon pertanyaan wartawan, tangan Ani tak kunjung berhenti. Senyumnya malu- malu. Refleksnya lebih banyak menundukkan kepala, termasuk selalu menghindari kontak mata. Perlahan diangkatnya gayung bergagang tokoh wayang dari dalam lambung kuali tanah liat. Tampak santan bercampur butiran dawet atau cendol serta gempol, yakni bulatan sebesar pentol bakso. Unsur utama dawet Jabung itu menyatu di ceruk gayung.

Cendol dawet Jabung menggunakan tepung garut atau sagu aren. Bukan tepung beras seperti umumnya kuliner dawet. Mungkin ini yang membuat gurihnya menendang lidah.

Dari menatap santan, perhatian Ani berpindah ke mangkuk berisi larutan air garam. Seperti menguji kepekatan. Sendok logam yang tercelup di mangkuk itu sebentar-sebentar digoyangkannya. Tangannya lalu beralih ke mangkuk tape ketan hitam, dan berakhir ke gentong kecil berisi gula kelapa.

Pilihan gula kelapa sebagai pemanis atau juruh menjadi pembeda dengan dawet yang galibnya berjuruh gula tebu.

“Kalau musim nangka biasanya ada tambahan buah nangka. Namun sekarang lagi gak musim,” imbuh Ani menerangkan. Untuk seporsi minuman khas yang menyegarkan itu pembeli cukup merogoh kocek Rp 3.000.

Namun ada juga yang menjual semangkuk Rp 4.000 hingga Rp 8.000. Harga lebih mahal itu biasanya hanya berlaku di tempat wisata. Menyoal larangan lepek dibawa pembeli, Ani menyebutnya sebagai pamali atau pantangan. Saat dawet disuguhkan, pembeli hanya dibolehkan memegang mangkuk.

Sementara lepek tetap berada di tangan penyajinya. Masih terjaganya tradisi itu praktis membuat seluruh mangkuk peminum dawet Jabung tidak beralas.

“Kalau lepek dawet diserahkan, mitosnya penjual akan ikut yang beli,” terangnya sembari tergelak. Hal ini ditafsirkan sebagai “bersedia dilamar atau dinikahi”.

Tapi kebanyakan artinya malah dimaknai negatif. Meski dianggap gugon tuhon atau mitos, mayoritas pedagang dawet Jabung tak cukup berani untuk melanggarnya.

Begitu juga dengan Ani. Dia mengaku tidak tahu darimana awal mitos itu berasal. Yang dia ketahui, orang tua dan budenya (Bu Sumini) selalu mewanti-wanti untuk tidak sekali-kali melanggar tradisi. Bu Sumini yang berjualan dawet Jabung sejak tahun 1995 selalu menyampaikan pesan itu.

“Kata orang-orang tua tidak elok,” tukasnya.

Bagaimana dengan pembeli yang sengaja memegang lepek?

Menurut Ani, ia tak pernah lupa memberitahu bahwa yang diangkat pembeli mangkuk dawetnya. Namun jika ada pembeli nakal sengaja memegang lepek, dia sendiri yang menyodorkan mangkuknya.

“Ya langsung saya ambilkan mangkuknya. Artinya hingga saat saya tidak pernah melanggar pantangan,” jawabnya kemudian.

Menjaga Kehormatan Perempuan

Spekulasi yang berkembang, pantangan atau mitos yang berlaku di dawet Jabung disinyalir merupakan wujud strategi kebudayaan leluhur Desa Jabung Kecamatan Mlarak. Bisa jadi hadirnya mitos tersebut salah satunya untuk menegakkan norma kesusilaan, yakni khususnya menjaga kehormatan penjual dawet Jabung yang mayoritas perempuan.

“Dan lahirnya mitos biasanya didahului sebuah peristiwa sosial atau ada riwayat sejarahnya,” sebut Hyuantoro warga Blitar yang mengaku sudah lama menggemari dawet Jabung.

Legenda Suromenggolo

Beralih ke Legenda Suromenggolo. Jika hendak berbicara kemahsyuran dawet Jabung Ponorogo, tentunya tak bisa lepas dari legenda Warok Suromenggolo. Dikisahkan, tangan kanan Bathoro Katong itu, yakni putra Brawijaya V (Raja Majapahit) yang juga pendiri sekaligus Bupati pertama Ponorogo tersebut, sedang berduel dengan sebangsa lelembut (jin).

Jin bernama Klenting Mungil penguasa Gunung Dloka itu bersenjatakan pusaka Aji dawet upas. Konon pusaka sakti berbentuk cendol dawet itu berasal dari mata manusia. Kedigjayaan Aji dawet upas membuat Suromenggolo serasa terbakar dan tak sadarkan diri.

Seorang penggembala sapi bernama Ki Jabung menolongnya. Baluran dawet buatan Ki Jabung membuat Suromenggolo pulih seperti sedia kala. Bahkan Jin Klenting dan Jin Gento mampu dikalahkannya. Sebagai bentuk terima kasihnya, Warok Suromenggolo bersabda bahwa kelak masyarakat Desa Jabung akan hidup makmur dari berjualan dawet.

Menurut Ani penjual dawet Jabung  ada dimana-mana. Tak hanya di wilayah Ponorogo saja, namun juga telah menyebar ke daerah lain, termasuk di kota besar di Jawa Timur. Bahkan tidak sedikit warga luar Desa Jabung ikut-ikutan menirunya.

“Meski ditiru dari sisi rasa tetap beda,” imbuh Ani.

Ani juga cerita, bahwa selain mitos lepek, di dawet Jabung ada juga  tradisi kuat kuatan minum dawet. Ini biasanya dilakukan pembeli dari kalangan orang tua.

Siapa yang minum dawet paling sedikit, akan membayari paling banyak.

“Meski sudah jarang, tradisi di bulan kemarau itu masih ada. Saya pernah menemui paling banyak minum sampai 7 mangkuk dawet,” kenangnya.

Karena tak puas hanya habis semangkuk, wartawan yang bertugas kembali memesan. Namun saat dawet disajikan bukan mengambil mangkuk. Melainkan sengaja memegangi lepek. Ani pun langsung bereaksi menyampaikan protap dawet Jabung.

“Tolong yang diambil mangkuknya saja Mas,” seloroh Ani.