Terbongkar oleh The Guardian, Begini Permainan Buzzer Ahok Selama Pilkada


SURATKABAR.IDThe Guardian yang merupakan salah satu media massa Inggris tengah menyorot keberadaan pasukan buzzer dunia maya selama kontestasi politik di Indonesia. Media yang merupakan bagian dari Guardian Media Group ini lalu menurunkan tulisan  yang membeberkan keberadaan tim Buzzer sebagai bagian dari politik di Indonesia. Hal ini disebutkan telah membantu memecah belah agama dan ras.

Dalam tulisannya, seperti dikutip dari laman SindoNews.com, Kamis (26/07/2018), The Guardian mewawancarai seorang anggota tim buzzer dari mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) saat bertarung dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu.

Diungkapkan oleh narasumber yang mengaku bernama Alex, ia merupakan salah satu dari 20 orang dalam pasukan maya rahasia yang menyebarkan pesan dari akun media palsu untuk mendukung Ahok.

“Mereka mengatakan kepada kami bahwa Anda harus memiliki lima akun Facebook, lima akun Twitter dan satu Instagram,” ujarnya seperti dilansir dari The Guardian, Selasa (24/07/2018).

“Dan mereka mengatakan kepada kami untuk merahasiakannya. Mereka mengatakan itu adalah ‘waktunya berperang’ dan kami harus menjaga medan perang dan tidak memberi tahu siapa pun tentang kami bekerja,” tukasnya.

Baca juga: Soal Kalijodo Tak Terawat, Sandiaga: Kita Jago Bangun, Tapi Tak Bisa Rawat

Perang Paham

“Ketika Anda sedang berperang, Anda menggunakan apa pun yang tersedia untuk menyerang lawan. Tetapi kadang-kadang saya merasa jijik dengan diri saya sendiri,” imbuhnya kemudian.

Menurut Alex, timnya dipekerjakan untuk melawan banjir sentimen anti Ahok—termasuk hashtag yang mengkritik kandidat oposisi, atau menertawakan koalisi kelompok Islam.

Tim Alex—yang terdiri dari pendukung Ahok dan mahasiswa, memperoleh bayaran Rp 4 juta. Mereka diduga bekerja di sebuah rumah mewah kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Masing-masing dari mereka diberitahu untuk mengirim 60 hingga 120 kali cuitan sehari di akun Twitter palsu dan beberapa kali postingan setiap hari di Facebook.

Alex menambahkan timnya terdiri dari 20 orang, masing-masing dengan 11 akun media sosial, akan menghasilkan hingga 2.400 postingan di Twitter sehari.

Special Force

Operasi ini dikoordinasikan melalui grup WhatsApp bernama Special Force, atau Pasukan Khusus, yang Alex perkirakan terdiri dari sekitar 80 anggota. Tim itu memberi makan konten dan hashtag harian untuk diposting.

“Mereka tidak ingin akun tersebut menjadi anonim sehingga mereka meminta kami untuk mengambil foto untuk profil tersebut, jadi kami mengambilnya dari Google, atau terkadang kami menggunakan gambar dari teman-teman kami, atau foto dari grup Facebook atau WhatsApp,” terang Alex.

“Mereka juga mendorong kami untuk menggunakan akun wanita cantik untuk menarik perhatian pada materi; banyak akun yang seperti itu,” lanjut Alex.

Di Facebook, mereka bahkan membuat beberapa akun menggunakan foto profil aktris asing yang terkenal, yang entah bagaimana tampak seperti penggemar Ahok. Tim siber itu diduga mengatakan “aman” untuk memposting dari markas mereka di Menteng, di mana mereka beroperasi dari beberapa kamar.

“Ruang pertama untuk konten positif, di mana mereka menyebarkan konten positif tentang Ahok. Ruang kedua adalah untuk konten negatif, menyebarkan konten negatif dan pidato kebencian tentang oposisi,” ungkap Alex secara terperinci. Alex sendiri memilih untuk berada di kamar positif.

Bukan Hal Baru dalam Politik

Banyak dari akun itu hanya memiliki beberapa ratusan pengikut, namun dengan mendapatkan tren hashtag mereka, setiap hari, mereka secara artifisial meningkatkan visibilitas di platform. Dengan memanipulasi Twitter, mereka memengaruhi pengguna dan media Indonesia, yang sering mengacu pada hashtag yang sedang tren sebagai barometer suasana nasional.

Mengingat bahwa Ahok kalah dalam pemilihan, dan berakhir di penjara, Alex menuturkan dia tak dapat memastikan seberapa efektif timnya.

Ulin Yusron, juru bicara tim kampanye Ahok menolak mengomentari tuduhan tertentu tetapi mengatakan kampanye itu sangat sulit.

“Penggunaan fitnah, kebencian dan tipuan (berita palsu) sangat besar,” tukasnya kepada The Guardian. 

“Secara alami, tim membentengi diri dengan pasukan pendukung, termasuk di media sosial. Itu bukan sesuatu yang baru dalam politik,” sebutnya.