Mengunjungi Istana Kadriyah, Saksi Bisu Berdirinya Kota Pontianak


SURATKABAR.ID – Ada salah satu destinasi wisata menarik di Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Namanya Istana Kadriyah. Rupanya, dari sinilah asal mula Kota Pontianak berdiri. Seperti diketahui, kini Pontianak telah menjadi ibukota Provinsi Kalimantan Barat. Kota yang dilalui garis khatulistiwa ini masih menyimpan khasanah budaya Melayu. Terlebih lagi dengan adanya Istana Kadriyah yang hingga kini masih berdiri kokoh sejak dibangun tahun 1773.

Melewati berbagai zaman, Istana Kadriyah Pontianak yang masih tegak berdiri ini dibangun pada masa Kesultanan Kadriyah Pontianak. Merupakan sebuah kesultanan Melayu, bangunannya didirikan tahun 1771 oleh Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie. Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie sendiri merupakan keturunan Rasulullah SAW dari Imam Ali Ar-Ridha. Demikian dilansir dari reportase SindoNews.com, Sabtu (21/07/2018).

Letak Istana Kadriyah berada di daerah muara Sungai Kapuas yang termasuk kawasan yang diserahkan Sultan Banten kepada VOC Belanda. Bangunan mulai berdiri pada tahun 1773 masehi. Tujuh tahun kemudian Syarif Abdurrahman dikukuhkan sebagai Sultan Pontianak pertama.

Setelah proklamasi kemerdekaan tahun 1945, Sultan Hamid II yang berkuasa di Kesultanan Kadriyah Pontianak bergabung dengan Republik Indonesia. Hal ini kemudian diikuti oleh kerajaan-kerajaan Melayu lain di Kalimantan Barat.

Meriam Peninggalan Jepang dan Portugis

Yang menarik, selain menikmati arsitektur bangunan kerajaan yang indah, pengunjung juga bisa melihat meriam peninggalan Jepang dan Portugis di halaman istana. Dan jika menilik ke bagian dalam, singgasana rajanya juga masih terawat baik. Demikian juga dengan kaca seribu yang dimiliki oleh Istana Kadriyah.

Baca juga: Pelatih dan Remaja Tim Sepak Bola Thailand Ungkap Mengapa Mereka Masuk ke Dalam Goa

Di dalam istana, para pengunjung akan melihat foto-foto silsilah Sultan Pontianak serta keturunannya. Begitu juga dengan sketsa lambang burung Garuda yang dirancang Sultan Hamid II, juga terpajang di dinding ruang utama istana.

Sementara di dalam ruang Balairung Sari, tersimpang baju telok belanga milik Sultan Pontianak serta gamelan Jawa yang dihadiahkan dari Keraton Solo kepada Sultan Pontianak.

Setiap harinya, Istana Kadriyah berwarna kuning ini selalu dikunjungi oleh turis, baik lokal maupun mancanegara.

Hal ini diakui juru pelihara Istana Kadriyah Pontianak, Syarif Kasim Alkadrie, yang selalu melayani para turis yang berkunjung ke Istana Kadriyah Pontianak.

Sementara salah seorang wisatawan, Gifa Garnisa mengaku takjub dengan bangunan Istana Kadriyah yang masih tegak berdiri hingga saat ini. Untuk itu, dirinya berharap kepada pemerintah agar dapat melakukan pemeliharaan terhadap bangunan istana. Dengan demikian, generasi mendatang masih dapat menikmatinya.

Tak jauh dari Istana Kadriyah Pontianak, terdapat Masjid Jamik Pontianak, yang merupakan masjid tertua di Kota Pontianak. Masjid ini didirikan oleh Sultan Syarif Abdurahman Alkadrie, saat menemukan tempat untuk dijadikan pemukiman.

Selain menjadi cagar budaya, istana ini juga selalu digunakan oleh kerabat sultan sebagai tempat pengajian dan musyawarah.

Menyusuri Sungai Kapuas dengan Kapal Wisata

Selain Istana Kadriyah, Pontianak merupakan kota dengan banyak potensi pariwisata. Apalagi jika mengingat di ibukota provinsi Kalimantan Barat ini terdapat sungai terpanjang di Indonesia. Ini membuat beberapa masyarakat yang ada di sekitar Sungai Kapuas memanfaatkan potensi pariwisata tersebut dengan menyediakan kapal wisata. Kapal-kapal wisata umumnya menyusuri Sungai Kapuas dari sore ke malam hari.

Bahkan di akhir pekan, kapal wisata sungai kapuas ini selalu ramai pengunjung dari dalam maupun luar Kota Pontianak. Satu persatu para turis menghabiskan akhir pekannya di Taman alun-alun Kapuas Pontianak. Mereka menaiki kapal wisata guna melihat keindahan pemukiman pendudukan di pinggiran Sungai Kapuas.

Sejak pukul 15.00 sore kapal wisata yang bersandar di dermaga Taman Alun-alun Kapuas menunggu para wisatawan yang hendak menyusuri Sungai Kapuas. Kapasitas penumpang mencapai 120 orang. Para turis dimanja dengan pesona Sungai Kapuas serta pemandangan kehidupan masyarakat di pinggiran sungai.

Ditambah lagi dengan pemandangan Masjid Jamik Pontianak, masjid tertua di Kota Pontianak ini semakin menambah marak pemandangan di waktu sore menjelang malam hari.

Di atas kapal wisata ini, para turis bisa menikmati menu makanan maupun minuman tradisional Kota Pontianak seperti minuman lidah buaya.

Seorang penumpang dikenakan tarif sebesar Rp 15.000 dengan jarak tempuh dari alun-alun kapuas menuju jembatan Kapuas satu. Tentunya tarif ini diluar biaya makan dan minum di atas kapal wisata.

Yunita Karolin, salah seorang penumpang yang baru tiba dari Jerman ini mengaku sangat tertarik dengan potensi pariwisata sungai. Sehingga dirinya mengajak suami dan anak-anaknya menikmati keindahan sore hari menyusuri sungai Kapuas.

Sementara itu, dua mahasiswa asal luar Kota Pontianak meminta kepada Pemkot Pontianak untuk menjaga sungai tersebut dari masalah sampah. Sebab, saat menyusuri sungai Kapuas dengan kapal wisata, masih banyak sampah-sampah yang berserakan di sungai.

Adapun Merri Susanti selaku pemilik kapal wisata mengungkapkan dirinya bergelut di bidang pariwisata hampir enam tahun, khususnya mengelola kapal wisata menyusuri sungai Kapuas di sore hingga malam hari.

Sayangnya, pemerintah setempat masih belum bisa menggali lebih dalam potensi pariwisata sungai yang ada di Pontianak, sehingga pariwisata ini hanya dikelola oleh masyarakat sekitar. Harapannya, pembangunan waterfront di pinggiran Sungai Kapuas bisa mendongkrak pariwisata air di kota Pontianak dengan lebih baik lagi untuk ke depannya.