Dianggap Dukung Khilafah oleh Bachtiar Nasir, Kapolri: Ustad Tidak Cerdas

SURATKABAR.IDKapolri Jenderal Tito Karnavian geram terhadap sosok Ustad Bachtiar Nasir. Ini dikarenakan Ustad Bachtiar menyebut Tito sebagai tokoh yang mendukung berdirinya idiologi khilafah menggantikan sistem demokrasi di Indonesia.

Tito mengungkapkan kemarahannya pada Bachtiar Nasir berawal dari sebuah video yang viral di kalangan kelompok Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Dalam video tersebut, Bachtiar Nasir menyampaikan bahwa Kapolri Tito menyebut sistem khilafah adalah hal yang paling tepat untuk diterapkan sebagai idiologi Indonesia.

“Kemarin komplain dengan Ustad Bachtiar Nasir karena ada video yang viral, di tengah-tengah masyarakat kelompok HTI. Dan menyampaikan bahwa Indonesia harus menerapkan sistem khilafah. Karena demokrasi liberal tidak benar menghancurkan negara ini. Dan saya berdiskusi dengan orang yang berkopeten itu, yaitu Kapolri Jenderal Tito Profesor Doktor Tito Karnavian,” papar Tito menggambarkan isi video tersebut di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, dikutip Okezone, Selasa (17/7/2018).

Tito juga menegaskan, dengan adanya hal tersebut, dirinya langsung menghubungi Bachtiar Nasir. Menurutnya, penilaian selama ini terhadap Ustad Bachtiar salah besar.

Baca juga: Marah Besar, Tito Karnavian Copot Polisi yang Tendang Ibu dan Anak di Minimarket Bangka Belitung

Tito menyatakan bahwa Bachtiar adalah sosok ustad yang tidak cerdas.

“Tapi begitu melihat kata-kata ustad disitu, saya hilang kesan. Kesan saya Ustad tidak cerdas yang saya lihat,” tegas Tito.

Tito menekankan, dirinya tidak pernah menyampaikan untuk mendukung berdirinya konsep khilafah di Indonesia.

Dalam sebuah pernyataannya, Tito memang mengaku telah menyatakan bahwa saat ini Demokrasi Liberal yang telah menjadi potensi pemecah belah bangsa.

“Tapi saya tidak mengatakan ganti khilafah. Tidak sama sekali tidak. Bahkan saya mengatakan khilafah berbahaya sama kaya demokrasi liberal,” tutur mantan Kapolda Metro Jaya itu.

Tito menjelaskan, demokrasi liberal akan bisa diadposi oleh Indonesia ketika kelas menengah sudah besar dibandingkan kelas kecil. Untuk saat ini, kata Tito, Demokrasi Pancasila merupakan idiologi yang paling tepat diterapkan.