Tahun Ajaran Baru, Dinas Pendidikan Kota Blitar Keluarkan Kebijakan Mutakhir Soal PR


SURATKABAR.ID – Dinas Pendidikan Kota Blitar, Jawa Timur mengambil langkah tegas terkait kegiatan belajar mengajar dengan mengeluarkan larangan kepada para guru sekolah untuk memberikan pekerjaan rumah (PR) kepada siswa-siswa didiknya.

Ketua DInas Pendidikan Kota Blitar M Sidik, mengungkapkan langkah tersebut, seperti yang dilansir dari laman Grid.ID, pada Selasa (17/7/2018), ditempuh agar para siswa dapat memiliki waktu untuk mempelajari mengenai pendidikan karakter dari lingkungan keluarga maupun masyarakat sekitar.

“Kami akan membuat surat edaran (SE) untuk sekolah-sekolah soal larangan memberi PR ke siswa. Pelajaran sekolah kami harap selesai di sekolah. Siswa biar punya waktu belajar di lingkungan keluarga dan masyarakat,” jelas M Sidik, Senin (16/7).

Lebih lanjut ia menjelaskan, terkait kebijakan larangan para tenaga pengajar di sekolah memberikan PR kepada siswanya di Kota Blitar sendiri sebenarnya sudah ada sejak satu tahun yang lalu. Disdik menerampkannya selama lima hari sekolah untuk siswa sekolah menengah pertama (SMP).

Akan tetapi pada waktu itu larangan memberikan PR kepada siswa baru sebatas berupa pemberitahuan secara lisan ke masing-masing kepala sekolah di Kota Blitar. Dan menurut hasil evaluasi, rupanya masih cukup banyak guru yang tetap memberikan PR kepada anak didiknya.

Baca Juga: Telisik Rumah Siswa Ber-SKTM, Tim Sirvei Malah Jumpai Fakta Mengejutkan

Dan dengan dimulainya tahun ajaran baru tahun ini, Dinas Pendidikan Kota Blitar akan segera mengeluarkan surat edaran berisi larangan bagi seluruh tenaga pendidik untuk memberikan PR kepada siswa-siswanya.

“Siswa juga butuh belajar di lingkungan keluarga dan masyarakat. Sekarang banyak siswa yang tidak bisa membedakan mana daun salam mana daun kunyit. Pendidikan seperti itu hanya ada di lingkungan keluarga,” terang Sidik.

Harapan dari diterapkannya kebijakan ini adalah agar para siswa dapat memiliki waktu untuk berbaur dengan masyarakat di sekitar kediamannya. Mereka juga diharapkan dapat mengekspresikan hobi positif, seperti memasak, bercocoktanam, kesenian, olahraga, atau mengikuti kegiatan rohani sesuai dengan kepercayaan dan keyakinan masing-masing.