Disinggung Fahri Tenggat Waktunya Habis di 20 Tahun, PKS Balas dengan Jawaban Ini


    SURATKABAR.ID – Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Fahri Hamzah kembali melontarkan kritikan pedas ke kubu Partai Keadilan Sejahtera (PKS) terkait surat pengunduran diri tanpa disertai tanggal sebagai syarat bagi para bakal calon anggota legislatif (bacaleg).

    Tak tinggal diam, seperti dilansir dari laman Detik.com, pada Selasa (17/7/2018), kubu PKS pun buka suara menjawab kritikan tersebut. Menurutnya, untuk berkecimpung dalam panggung politik dibutuhkan kedewasaan dan kematangan diri, sehingga dapat menyikapi segala sesuatu dengan bijak.

    “Berpolitik itu butuh kedewasaan, kematangan, dan harus selesai dengan diri dan keluarganya,” tutur Ketua Departemen Politik DPP PKS Pipin Sopian ketika ditemui untuk dimintai konfirmasi, pada Selasa (17/7), seperti dikutip dari Detik.com.

    Lebih lanjut, Pipin menjelaskan bahwa surat bersedia mengundurkan diri yang wajib ditandatangani bacaleg PKS sudah menjadi aturan dari pihaknya. Dan dengan demikian, ia tegas meminta agar semua pihak dapat menghormati aturan tersebut.

    “Semua partai punya aturan, kode etik, dan fatsun yang harus diikuti. Pilihannya apakah kita mau mentaatinya atau memilih pisah mencari yang lain. Kami hargai hak masing-masing individu,” tambah Pipin lebih lanjut.

    Baca Juga: Ogah Nyaleg dan Putuskan Akan Tetap di PKS, Tak Disangka Begini Alasan Fahri Hamzah

    Dirinya pun menampik adanya sejumlah besar bacaleg yang memutuskan untuk mengundurkan diri dari PKS menyebabkan partainya jatuh ke titik terendah. Dengan tegas Pipin menyampaikan, bahwa hingga detik ini partainya tetap solid, tidak seperti isu-isu yang beredar luas di masyarakat.

    Alhamdulillah, hingga kini PKS tetap solid dan optimis menghadapi Pemilu 2019. Banyak kader dan tokoh daerah dan nasional yang saat ini sedang proses menyelesaikan syarat-syarat daftar pencalegan dari PKS,” tandas Pipin.

    Seperti yang diketahui sebelumnya, Fahri Hamzah menyinggung syarat yang diajukan PKS. Menurutnya syarat tersebut adalah tanda-tanda awal ‘kematian’ yang ditunjukkan partai politik tersebut pada tahun ini.

    “Mungkin inilah umur PKS 20 tahun, selesai tahun inilah. Kan kita dulu deklarasi 1998, ini 2018, mungkin ini innalillahi wa innailaihi rojiun,” ujar Fahri Hamzah di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Selasa (17/7).

    “Kalau caranya begini, ya selesai, dan mana mungkin orang mau jadi caleg kalau nyawanya udah dipegang partai dari awal. Tinggal taruh tanggal (di surat), hilang. Mustahillah,” tambah Fahri lebih lanjut.

    Fahri menilai PKS saat ini sudah berada di titik terendah. Dan para kader, menurutnya, tak terima begitu saja dengan gaya pemimpin PKS saat ini. Ia kemudian mengungkit-ungkit ‘kegagalan’ PKS pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018.

    “PKS itu dalam titik nadir keadaannya sekarang ini, padahal keadaan (sedang) baik. Dulu ya, kita kena kasus LHI, ditangkap dia, tapi kita bisa dapat Jawa Barat, Maluku Utara, Sumatera Utara. Kita bisa dapat dalam keadaan sulit,” tuturnya.

    :Sekarang dalam keadaan baik, ini hilang semua. Padahal keadaan lagi tidak ada masalah, tidak ada kasus hukum, tapi memang ini sepertinya ada niat merusak PKS dari dalam,” pungkas Fahri menghujamkan tudingan.