Maniak! Masih 11 Tahun, Bocah Ini Sudah Jadi Penjagal Paling Bengis


    SURATKABAR.ID – Penemuan mayat seorang bocah lelaki bernama Martin Brown pada musim panas tahun 1968 sukses bikin geger warga Scotswood, London, Inggris. Bocah 4 tahun tersebut ditemukan dalam kondisi mengerikan di sebuah rumah kosong. Darah dan air liur menetes di pipinya.

    Tak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan, pihak kepolisian pun menarik eksimpulan bahwa penyebab kematian Martin si bocah hanya dikarenakan kecelakaan tak terduga. Namun hanya dalam hitungan minggu setelahnya, polisi dikejutkan dengan kasus serupa.

    Dilansir dari Grid.ID, Senin (16/7/2018), Brian Howe, balita 3 tahun ditemukan tak bernyawa di tempat biasa kakak-kakaknya bermain, di kawasan Scotswood. Terdapat luka janggal di tubuh Brian. Tusukan di bagian paha, alat vitalnya yang sebagian dimutilasi, dan rambutnya didapati telah dipotong.

    Selang beberapa hari usai penemuan mayat Brian, barulah polisi menyadari petunjuk penting. Ukiran huruf ‘M’ yang dibuat dengan benda tajam, seperti gunting atau silet, tercetak pada perut bocah 3 tahun tersebut.

    Penemuan mayat dua balita dalam waktu yang berdekatan sontak membuat warga sekitar panik. Polisi langsung menaruh curiga pada anak-anak yang berada di sekitar lokasi kejadian. Untuk menghindari terulangnya kejadian serupa, polisi memutuskan mengawasi perilaku anak-anak di tempat itu.

    Baca Juga: Ngeri! 6 Pengikut Setan Paling Sadis di Dunia, Penganut di Mandailing Natal Tega Habisi Keluarganya

    Ketika mengawasi, polisi mencurigai gerak-gerik dua bocah perempuan yang selalu menunjukkan perilaku aneh ketika mereka bermain bersama anak-anak lainnya. Akhirnya polisi mencoba menginterogasi sejumlah anak yang sering bermain di taman tersebut.

    Dan betapa terperanjat polisi ketika menginterogasi dua anak perempuan yang memang mereka curigai. Norma Bell, yang baru berusia 13 tahun memperlihatkan semangatnya saat ditanyai terkait pembunuhandua balita sebelumnya.

    Yang lebih mengerikan, selama menjalani proses interogasi, Norma bahkan selalu tersenyum. Seolah ia menganggap kejadian tersebut hanya sebuah lelucon yang sangat menyenangkan. Tidak hanya Norma, polisi juga menginterogasi Mary Bell.

    Anak perempuan 11 tahun ini memiliki kepribadian berbeda dari Norma. Mary lebih tertutup dan mencoba menghindar ketika mendapatkan pertanyaan. Tetapi sewaktu mendengar pertanyaan tentang pembunuhanbalita beberapa waktu lalu, ia mengaku melihat Brian bersama seorang bocah laki-laki.

    Sewaktu ditelusuri lebih lanjut, anak laki-laki yang disebutkan Mary bersama Brian sesaat sebelum kematiannya, ternyata tengah berada di bandara ketika kejadian mengerikan tersebut. Ditambah Mary yang juga menyebutkan dirinya melihat gunting sesaat sebelum Brian tewas.

    Padahal pihak kepolisian merahasiakan barang bukti dalam kematian Brian. Bukti mengejutkan lain diungkapkan seorang petugas polisi lain yang mengatakan melihat Mary menunjukkan kebahagiaan saat menyaksikan peti mati Brian dibawa keluar dari rumah bocah malang tersebut.

    Tidak hanya tertawa, Mary terlihat puas sambil menggosok-gosokkan kedua tangannya. Namun yang aneh, adalah Mary justru menuduh Norma sebagai pelaku di balik pembunuhanini. Lantaran terkejut, Norma akhirnya membongkar informasi sebenarnya.

    Rupanya Norma ada di lokasi ketika Mary menghabisi nyawa Brian. Dengan bantuan dari Norma, aparat kepolisian berhasil menangkap Mary, bocah ingusan yang berperilaku seperti seorang penjahat berdarah dingin.

    Di depan meja hijau, Mary mengaku melakukan hal mengerikan tersebut hanya untuk mendapatkan kesenangan semata. Atas pengakuan tersebut, hakim pun menyatakan Mary adakan orang yang sangat berbahaya dan dapat menjadi ancaman serius bagi anak-anak lain di lingkungannya.

    Atas perbuatannya, Mary Bell dijatuhi hukuman 12 tahun penjara. Ia bebas pada tahun 1980 ketika berusia 23 tahun. Mendapatkan kebebasan bersyarat, segala tingkah lakunya di masyarakat berada di bawah pengawasan kepolisian.

    Untuk memberi kesempatan hidup baru dan agar tidak menarik perhatian awak media, Mary Bell mendapat identitas baru. Lantaran kasus di masa lalunya yang begitu besar, Mary sampai harus pindah beberapa kali.

    Hingga tahun 1984, keberadaan Mary dan keluarga terendus media. Semua orang mengepung kediamannya dan menuntut Mary kembali menerima hukuman. Namun dengan perlindungan dari pemerintah dan karena masa tahanan yang sudah berakhir, Mary memiliki hak hidup bebas.