Indonesia Diantara Natuna dan Devisa


indonesia-china-fokuskan-kerja-sama-bidang-industri-pertahanan-Mdl

Negara China atau Tiongkok, akhir-akhir seperti mejadi media darling bagi berbagai media di Tanah Air. Bagai dua sisi mata  uang, China mendapat sorotan dari dua sudut pandang berbeda, disayang namun juga dibenci.

Insiden yang terjadi di Laut Natuna beberapa waktu lalu, jelas menguras emosi dan patriotisme hampir semua kalangan masyarakat. Sikap tegas duo srikandi di Kabinet Kerja, yaitu Menteri Susi dan Menteri Retno, jelas seperti menggambarkan  sikap masyarakat yang merasa ‘disakiti’ karena kedaulatannya di diinjak bangsa lain.

Apalagi pada awalnya perwakilan China terkesan bersikap cuek dan merasa tidak bersalah, dengan mengatakan bahwa kapal nelayan yang sedianya akan ditangkap oleh pihak keamanan Indonesia masih melaut di perairan tradisional mereka, yakni China selatan yang selama ini juga kerap menjadi sengketa dengan Vietnam, Filipina dan Malaysia.

Bila kita merunut kebelakang, tampaknya sikap China tersebut juga masih berhubungan dengan   kebijakan pemerintahan Jokowi-JK yang berusaha membina hubungan baik dengan negeri Tirai Bambu tersebut, khususnya dalam meraup devisa dan investasi.  Dalam masa JKW-JK kali ini memang begitu banyak proyek infrastruktur yang menggandeng investor asal negara dengan penduduk terpadat di dunia tersebut. Mulai dari pembangkit listrik, hingga mega proyek kereta cepat, semuanya dikerjakan dengan dukungan pihak China, baik swasta maupun pemerintahannya.

Sikap Presiden Joko Widodo sendiri atas insiden Natuna masih tanda tanya, seperti halnya yang disampaikan oleh Menteri Susi, bahwa meskipun Presiden sudah menerima laporan, namun Jokowi hanya diam  saja,dan tidak berkomentar. Hal tersebut senada dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla, yang tidak mau berkomentar banyak atas masalah kelautan tersebut, “Biar Menteri Susi yang urus,” kata JK singkat seperti dikutip dari detiknews.

Bisa jadi antara peristiwa Natuna dengan penanaman modal China besar-besaran di Tanah Air saat ini memiliki korelasi. Entah apakah memang  gerojokan devisa asal Tiongkok tersebut merupakan cara ‘halus’ China dalam memantapkan posisinya di Laut China Selatan  kepada Indonesia? Ataukah China memang sengaja menguji sikap ‘teman barunya’ Indonesia dalam mensikapi sebuah insiden berbau kedaulatan?

Namun memang peristiwa ini akan menjadi satu titik penting bagi hubungan diplomatis Indonesia dengan China, yang tampaknya diharapkan oleh Pemerintahan Jokowi bisa menjadi pengerek perputaran roda ekonomi di Tanah Air.

Layak untuk ditunggu bagaimanakah sikap Presiden Jokowi bersama Wapres JK kepada China pasca peristiwa Natuna, karena jelas kedaulatan negara tidak bisa ditawar dan merupakan harga mati. Sehingga sudah seharusnya kedaulatan NKRI dijaga hingga titik darah penghabisan.


BAGIKAN

Komentar

komentar


Terpopuler



Berita sebelumyaBikin Video Lalu Lintas Jakarta , Bule Asal Italia Ini Sebut Macet Disana Sudah Kayak Hutan
Berita berikutnyaAkhirnya, PDIP Putuskan Calon Gubernur Jakarta Bukan …..