Deretan Fakta Tentang RI Caplok 51% Saham Freeport


SURATKABAR.ID Pemerintah Indonesia dan PT Freeport menyepakati pokok-pokok perjanjian divestasi 51 persen saham. Kesepakatan tersebut dituangkan dalam head agreement yang ditandatangani Direktur Utama PT Inalum Indonesia Budi Gunadi Sadikin mewakili Pemerintah Indonesia dan CEO Freeport Mc Moran Ricard Adkerson.

Dilansir dari Liputan6.com, PT Freeport akan membangun smelter di dalam negeri dan perpanjangan masa operasi 2×10 tahun hingga 2041 setelah PT Freeport memenuhi seluruh kewajibannya.

Penandatanganan tersebut membuka jalan bagi Indonesia untuk menjadi pemilik mayoritas di Tambang Grasberg. Dibalik penandatanganan tersebut, ada fakta lain yang bisa membuat Anda melongo dan terkejut.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno mengatakan, untuk melengkapi kepemilikan saham pemerintah Indonesia di Freeport Indonesia menjadi 51%, Inalum akan mengambil participating interest (PI) Rio Tinto 40%, saham pemerintah 9,36% dan saham Indocopper 10%.

Baca Juga: Jokowi Soal Alotnya Negoisasi 3,5 Tahun dengan Freeport: Saham Indonesia Jadi 51 Persen

“Jadi kalau ditambah punya negara menjadi menjadi 51,38%. Total nilai kita dengan ambil PI Rio dan Indocopper itu sebesar USD3,85 miliar,” terangnya di Kementerian Keuangan, Jakarta (12/7/2018).

Tak hanya itu, Holding Industri Pertambangan PT Indonesia Asahan Alumunium (Persero) atau Inalum mengaku sudah siap membayar total dana yang dibutuhkan untuk menguasai 51% saham Freeport Indonesia sebesar USD3,85 miliar.

Keyakinan tersebut karena ada 11 bank yang siap membantu.

Fakta terahir ini akan membuat Anda terkejut, setelah penandatanganan pokok-pokok perjanjian. Dua belah pihak akan melanjutkan proses divestasi saham hingga akhirnya pemerintah melalui Inalum resmi memiliki 51% saham Freeport Indonesia.

CEO Freeport Mc Moran Richard Adkerson mengatakan, dengan kenaikan porsi saham pemerintah maka pendapatan yang diterima Indonesia juga meningkat.

Jika dihitung operasional Freeport Indonesia hinga 2041 maka, Indonesia berpotensi untuk mendapatkan USD60 miliar atau setara Rp864 triliun (mengacu kurs Rp14.400) dari Tambang Grasberg.