Yakin, Dede Yusuf Sebut Tak Ada TKA China Disembunyikan Saat ke Morowali


    SURATKABAR.ID – Dede Yusuf selaku Ketua Komisi IX DPR baru melakukan kunjungan kerjanya (kunker) ke PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) di Morowali, Sulawesi Tengah. Kunjungan kerja tersebut dikaitkan dengan isu serbuan tenaga kerja asing (TKA) di sana. Beberapa fakta ditemukan Dede Yusuf terkait TKA di Morowali.

    Mengutip laporan Detik.com, Minggu (08/07/2018), setelah melakukan pengecekan, Komisi IX DPR tak menemukan adanya serbuan tenaga kerja asing (TKA) di Morowali, Sulawesi Tengah yang digembar-gemborkan selama ini. Ketua Komisi IX DPR Dede Yusuf yakin tidak ada TKA yang disembunyikan saat kunjungan tersebut.

    Pengecekan yang dilakukan di PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) dijalani Dede beserta rombongan Komisi IX. Turut didampingi oleh Bupati Morowali, Ketua DPRD hingga sejumlah pihak dari Kemnaker dan imigrasi, hasilnya adalah tak ada serbuan maupun TKA yang disembunyikan.

    “Kalau menurut kami begini, kalau mau diumpetin (TKA China) masa iya ada Bupati, ada Ketua DPRD, imigrasi, pihak Kemenaker. Masa iya sih semuanya berbohong? Kalau iya konspirasi besar itu,” tandas Dede saat dihubungi tim pers, Minggu (08/07/2018).

    Dari hasil kunjungan, Dede menyebutkan jumlah TKA asal China di Morowali memang sempat tinggi pada kurun waktu 2015-2016 lalu. Hal ini disebabkan karena adanya pembangunan smelter yang membutuhkan banyak TKA. Sementara tenaga pekerja lokal belum banyak yang berkualifikasi dalam proyek terkait.

    Baca juga: Gema Teriakan ‘Prabowo Presiden’ Saat Purnawirawan Kopassus Deklarasikan Dukungannya

    “Saat ini pekerja asing sebagian besar sudah pulang karena pada saat pembangunan smelter di awal memang banyak sekali. Ketika sudah mulai berjalan dan berproduksi jumlah pekerja lokalnya berdasarkan laporan dari perusahaan, Disnaker, Imigrasi jumlah pekerja lokal hampir 50 ribu. Pekerja asingnya 2 ribuan,” ungkap Dede.

    Setelah pembangunan smelter, para TKA ada yang sebagian pulang dan sebagian lagi melakukan proses transfer teknologi kepada pekerja lokal. Proses dilakukan melalui pendidikan di politeknik.

    “Banyak masuk pekerja asing karena tidak banyak orang Indonesia yang bisa membangun smelter. Sekarang setelah terjadi proses transfer teknologi ya pada pulang karena mahal kan bayar tenaga kerja asing. Dari apa yang kita lihat, cek di lokasi, memang pekerja China tidak sebanyak yang disebut-sebut,” paparnya.

    Fakta Pengecekan Komisi IX DPR

    Hasil kunker tersebut kemudian dibagikan Dede di akun Facebook pribadinya. Dede menyebutkan dirinya dan rombongan Komisi IX mengecek langsung ke PT IMIP mulai dari kantin pekerja, mess pekerja, pabrik hingga ruang operator.

    Dari hasil pengecekan itu, Dede menemukan jumlah TKA yang berada di PT IMIP berjumlah 2.500 orang. Sementara pekerja lokal mencapai hingga 28.000 orang.

    Dede juga menuturkan, gaji para pekerja lokal cukup menggiurkan yakni Rp 4 juta untuk lulusan SMA yang bekerja sekitar 6 bulan. Sedangkan untuk pekerja dengan masa kerja sudah 2 tahun gajinya mencapai Rp 10 juta per bulan.

    “Untuk membuktikan apakah benar TKA dari China menyerbu atau menguasai pabrik. Kami datangi semua, mulai dari kantin pekerja, mess pekerja China, pabrik, bahkan ruang operator. Jumlah karyawan asing ada 2500 TKA-nya. Sementara pekerja lokalnya mencapai 28.000 orang!!! Artinya TKA tidak sampai 10% dan memiliki izin kerja yang sah. Ini dibuktikan oleh laporan pejabat Imigrasi Kemenkum HAM di sana,” ujar Dede dalam postingannya, dipantau tim pers pada Minggu (08/07/2018).

    “Saat ini masih dibutuhkan 10.000 tambahan karyawan lagi, semuanya tenaga lokal dan lowongan terbuka bagi umum. Mungkin ada yang berminat?” lanjutnya.

    Banyaknya TKA yang berada di PT tersebut diperkirakan karena adanya pembangunan smelter pada 2014 hingga 2016 lalu. Usai smelter rampung, TKA yang tinggal di lokasi PT IMIP hanya sekitar 10 persen.

    “Mungkin dulu pada saat pembangunan smelter diawal 2014-2016 banyak TKA yang keluar masuk dengan kontrak per 2-3 bulan. Setelah Smelter berdiri, hanya 10% TKA yang tinggal. Untuk meneruskan Transfer Technologi kepada pekerja lokal. So once again, kami tidak menemukan serbuan TKA, yang ada justru puluhan ribu pekerja kita yang berasal dari sekitar Sulawesi,” ungkapnya.

    Dalam kunjungan, Dede juga bertemu dengan Bupati dan Ketua DPRD Morowali untuk membahas pendapatan daerah di sana. Dia meminta agar dibentuk Satgas Pengawasan TKA di sana.

    “Saya juga mendapat penjelasan dari Bupati dan Ketua DPRD tentang pendapatan daerah dan multiplier effect ke daerah yang terasa besar. Bahkan Morowali sempat mendapat angka pertumbuhan ekonomi sebesar 35%. 5 besar tertinggi di Indonesia. Jika hubungan Pemda dan industri bisa berjalan baik, sangat mungkin Morowali ke depan akan menjadi kota industri Metropolitan dengan pendapatan daerah ratusan miliar setahun,” terang Dede.