Telisik Rumah Siswa Ber-SKTM, Tim Survei Malah Jumpai Fakta Mengejutkan


SURATKABAR.ID – Tim survei Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Brebes, Jawa Tengah, menemukan sejumlah fakta mengejutkan usai menyambangi rumah-rumah calon siswa pemegang Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM).

Dilansir dari laman Detik.com, pada Sabtu (7/7/2018), diketahui bahwa tidak sedikit dari pemegang SKTM tersebut malah merupakan keluarga yang sangat berada. Hal tersebut berbeda dengan keterangan yang tercantum dalam surat miskin dari pejabat setempat.

Ketua panitia Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMA Negeri 1 Brebes, Leksito Rini menjelaskan, untuk menyikapi membludaknya calon siswa yang menyertakan SKTM ketika mendaftar sekolah, pihaknya mengirimkan tim untuk melakukan survei langsung.

Lebih lanjut disebutkan, selama masa pendaftaran calon siswa, tercatat sebanyak 78 anak yang melampirkan surat pernyataan tidak mampu untuk jurusan pilihan MIPA. Sementara dari jurusan pilihan IPS ada sebanyak 50 anak. Jumlah yang terbilang banyak tersebut dirasa cukup janggal.

“Memang aturannya pemegang SKTM yang memiliki nilai minimal 24 mendapatkan prioritas diterima. Agar SKTM ini tidak disalahgunakan kami membentuk tim survei. Tim ini langsung bekerja mendatangi rumah-rumah keluarga calon siswa,” papar Rini, Sabtu (7/7) pagi, dikutip dari Detik.com.

Baca Juga: Tragis! Antarkan Oksigen ke Gua untuk Anggota Tim Sepak Bola yang Terjebak, Penyelam Ini Malah Bernasib Sial

Dan usai penelusuran, tim mendapatkan hasil mengejutkan. Tak sedikit dari pemegang surat miskin tersebut datang dari keluarga kaya. Rini menyebutkan, ada satu calon siswa yang rupanya tinggal di rumah mewah, ia adalah anak dari juragan warteg di Jakarta.

“Semua kami dokumentasikan. Bisa dilihat rumah-rumah mereka yang mengaku miskin. Selain rumah bagus dan berkeramik, perabot di dalamnya juga mewah. Ada mebel ukir dan sofa mewah, memiliki motor lebih dari satu,” tambah Rini lebih lanjut.

Pada saat melakukan survei tersebut, ungkap Leksito Rini, tim menggunakan parameter umum keluarga miskin. Beberapa di antaranya seperti rumah berlantai tanah, tak memiliki kendaraan dan peralatan elektronik, rumah adalah bangunan semi permanen, serta listrik maksimal 900 watt.

Mengetahui fakta mengejutkan tersebut, usai survei, PPDB memutuskan menganulir puluhan SKTM. Dari awalnya 78 SKTM calon siswa MIPA, hanya tersisa 41 anak. Sementara untuk jurusan IPS, setelah survei, tinggal tersisa 21 orang.