Ngeri! Ditembak dan Jasadnya Dibiarkan Bergelimpangan, Begini Nasib Para Preman Zaman Soeharto


SURATKABAR.ID – Generasi X dan Y yang terutama lahir di era 80-an tentu pernah merasakan kehidupan Orde Baru—zaman di mana saat pemerintahan Soeharto masih berkuasa di Indonesia. Pada tahun 1980-an, saat itu aparat keamanan memang sedang dibuat gerah oleh maraknya aksi preman jalanan yang populer dengan sebutan gabungan anak liar (gali).

Bahkan, seperti dilansir dari laporan TribunNews.com, Sabtu (07/07/2018), aksi mereka ini sempat mengganggu roda perekonomian RI. Sebagai contohnya, kawasan terminal yang sudah dikuasai oleh para gali membuat pengusaha-pengusaha bus terus mengalami kerugian. Hal ini disebabkan oleh banyaknya begal yang membajak bus dan truk di jalanan dan lain sebagainya saat itu.

Presiden Soeharto lalu memerintahkan agar segera dibentuk tim yang beranggotakan aparat TNI/Polri (saat itu masih bernama ABRI/ Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) untuk melaksanakan operasi penumpasan kejahatan terhadap para begal yang makin marak dan merugikan.

Hingga tahun 1982, Polri di bawah pimpinan Kapolri Jenderal Awaloedin Djamin telah melakukan berbagai operasi penumpasan kejahatan.

Didata hingga Ditembak Mati, Kondisi Jempolnya Selalu Sama

Lebih lanjut, mengutip reportase Surya.co.id, Polri saat itu melancarkan berbagai operasi penumpasan kejahatan. Sebut saja seperti Operasi Sikat, Linggis, Operasi Pukat, Operasi Rajawali, Operasi Cerah, dan Operasi Parkit di seluruh wilayah Indonesia. dari sekian banyak operasi tersebut, tertangkaplah sebanyak 1.946 penjahat.

Baca juga: Sadis! Wanita Rohingya Ceritakan Tentara Myanmar Lempar Bayinya ke Udara lalu Ditebas Parang

Kendati sudah banyak penjahat yang diringkus, operasi penumpasan kejahatan masih terus berlanjut. Seperti yang dilakukan oleh Komando Daerah Militer (Kodim) 0734 Yogyakarta di bawah pimpinan Kolonel Muhamad Hasbi.

Ketika itu, Kolonel Hasbi (1983) menyatakan perang terhadap para preman atau gali yang aksinya makin meresahkan masyarakat Yogyakarta. Dia menggelar Operasi Pemberantasan Keamanan (OPK) yang bekerja sama dengan intelijen AD, AU, AL dan kepolisian.

Kodim Yogyakarta lalu melakukan pendataan terhadap para gali melalui operasi intelijen dan para gali yang berhasil didata diwajibkan melapor serta diberi kartu khusus. Setelah mendapat kartu, para gali itu dilarang berbuat ulah lagi dan harus mau memberitahukan dimana para gali lain yang tak mau melapor.

Para gali yang tak melapor kemudian diburu oleh tim OPK Kodim untuk ditangkap dan bagi yang lari atau melawan akan langsung ditembak mati. Mayat para gali yang ditembak mati dibiarkan tergeletak di mana saja dengan tujuan membuat efek jera (shock therapy).

OPK yang digelar aparat keamanan di Yogyakarta sudah diketahui oleh masyarakat. Setiap ada mayat yang ditemukan di pinggir jalan, tepi hutan, bawah jembatan, dan lainnya, mayat dengan luka tembak itu kerap dinamai sebagai korban penembakan misterius (petrus). Istilah ‘petrus’ ini belakangan menjadi sangat populer sekaligus menakutkan.

Kinerja OPK yang dilaksanakan di Yogyakarta ternyata mendapat perhatian khusus dari Kepala Intelijen RI LB Moerdani dan diapresiasi sebagai ‘kerja bagus dan lanjutkan!’. Cara penanganan gali dengan cara OPK pun diterapkan di berbagai wilayah di Indonesia dan korban ‘petrus’ pun bergelimpangan di mana-mana.

Yang pasti, OPK memang terbukti efektif menumpas para gali dan sebenarnya juga mendapat dukungan dari masyrakat luas. Bahkan hingga kini sekalipun, masyarakat kadang masih mengharapkan munculnya ‘petrus’ untuk menangani aksi kejahatan yang makin marak dan brutal dewasa ini.

Petrus Bertato dan Clove Hitch

Mengenai OPK yang sukses di era Orde Baru, Presiden Soeharto dalam buku otobiografinya bertajuk Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya, keberadaan ‘petrus’ memang ditujukan untuk menimbulkan efek jera kepada para penjahat, demikian dikutip dari laporan Grid.ID.

“Ya, harus dengan kekerasan. Tetapi kekerasan itu bukan lantas dengan tembakan, begitu saja. Bukan! Tetapi yang melawan, ya, mau tidak mau harus ditembak,” paparnya dalam buku yang terbit di tahun 1989 itu.

Pada 2012, Komnas HAM pernah mengumpulkan fakta-fakta tentang petrus. Yosep Adi Prasetyo selaku Wakil Ketua Komnas HAM saat itu menyatakan korban penembakan misterius (petrus) terjadi di kurun 1982-1985.

Para korban ada di semua daerah dan umumnya memiliki tato. Uniknya, cara mereka tewas rata-rata selalu melalui cara yang sama, sehingga jasadnya pun berada dalam kondisi yang hampir sama.

“Tangan mereka diikat ke belakang. Tali sepatu sebagai ciri, dipakai untuk mengunci kedua jempol mereka. Ini agar tidak bergerak. Kan jempolnya terkunci,” beber Wakil Ketua Komnas HAM Yosep Adi Prasetyo di kantor Komnas HAM, Jakarta Pusat, Selasa (24/07/2012) silam.

Penggunaan tali sepatu untuk mengikat dua ibu jari korban petrus pernah terjadi saat Vietkong melawan Amerika dalam perang Vietnam. Menurut Yosep yang juga merupakan Ketua Tim Penyelidikan Proyustisia Komnas HAM 2011, setelah dibunuh, korban petrus diletakkan di depan umum dan di atas badannya diletakkan uang Rp 10 ribu.

Petrus Capai Ribuan Orang

Mereka dibuang ke tempat sepi, dibuang ke jurang dan ada juga yang dibuang ke Luweng Grubuk, Wonosari, Yogyakarta. Berdasarkan penyelidikan Komnas HAM, estimasi korban petrus mencapai 2 ribu orang.

Sedangkan menurut temuan David Bourchier dalam karyanya yang berjudul Crime, Law, and State Authority in Indonesia pada 1990 yang diterjemahkan oleh Arief Budiman, petrus ini mencapai angka 10 ribu.

Pelaku eksekutor petrus juga tentunya bukanlah orang sembarangan. Mereka sangat terlatih. Wajar adanya jika eksekutor sangat terlatih, mengingat dari korban petrus ditemukan sejumlah timah panas, dan saat itu senjata api dipegang oleh aparat keamanan.

Selain senpi, ada senjata khusus yang mereka siapkan untuk membunuh para preman yang menjadi daftar korban.

“Selain senpi, mereka menggunakan tambang dengan kayu untuk menghabisi korbannya. Alat ini telah dipersiapkan sebelum eksekusi karena nampak dari takik pada kayu pegangan. Jenis ikatan ‘clove hitch’ menunjukkan pembuatnya orang terlatih dan mengerti tali temali,” terangnya menjelaskan.