Diduga Dipaksa Tinggalkan Kontrakan, Mahasiswa Papua di Kota Malang Mengamuk


SURATKABAR.ID – Pada Minggu (01/07/2018) malam, sejumlah mahasiswa asal Papua yang berada di Kelurahan Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang membuat keributan. Bahkan, mereka sempat adu mulut dengan pihak kepolisian. Suasana di jalan raya sekitar lokasi kejadian pun sempat tidak kondusif. Beberapa warga juga terlihat membawa batu-batu beragam ukuran untuk mengantisipasi jika ada penyerangan.

Mengutip reportase JawaPos.com, Senin (02/07/2018), kondisi lalu lintas pun ikut terpengaruh. Kekisruhan tersebut menimbulkan kemacetan karena beberapa dari warga turun hingga ke tengah jalan.

Tak cukup sampai di situ, sejumlah mahasiswa itu diketahui juga sempat melempar batu ke beberapa rumah warga sekitar. Bahkan, salah satu restoran ternama juga terkena imbasnya. Beberapa jendela kacanya pecah terkena lemparan batu.

Sering Timbulkan Kegaduhan

Menurut informasi yang dihimpun tim wartawan di lapangan, kerusuhan tersebut terjadi saat warga meminta agar para mahasiswa Papua itu meninggalkan rumah kontrakan yang selama ini ditempati. Pasalnya, mereka sudah sering menimbulkan kegaduhan dan membuat warga sekitar merasa tidak nyaman.

Deni Prasetyo (32) yang merupakan salah satu warga di sana menyebutkan, sejumlah mahasiswa itu memang sering membuat kegaduhan di salah satu rumah kontrakan. Padahal, dia menambahkan, masa kontrak mereka sudah habis menurut pemilik kontrakan.

Baca juga: Jarak Tempuh Yogya-Solo Makan Waktu 3 Jam, Menhub Imbau Bangun Tol Joglosemar

“Masa kontrak sudah habis. Tapi mereka belum keluar semua. Bahkan, meminta warga untuk eksekusi,” tukasnya pada Minggu (01/07/2018) malam. Diungkapkan Deni, seluruh penghuni kontrakan itu bersikeras untuk tetap tinggal.

Kata Deni, kerusuhan itu dikarenakan adanya pembelaan dari pihak mahasiswa. Sebelumnya, Minggu (01/07/2018) sekitar pukul 17.00 WIB, kontrakan itu juga didatangi oleh ketua RT/RW setempat serta beberapa warga. Tujuannya untuk menegur dan meminta agar mereka pergi dari rumah kontrakan itu.

“Dari ketua pimpinan Papua, ngomongnya masih kontrak. (Padahal) pemilik kontrak konfirmasi (masa kontrak) habis,” ungkapnya menjelaskan.

Setelah itu, terjadilah kerusuhan di sekitar kontrakan. Selanjutnya, sekitar pukul 20.00 WIB, warga ikut turun untuk menangani kerusuhan itu. “Ada juga pihak kepolisian dan Babinsa,” lanjut Deni.

Deni menambahkan, sebenarnya warga sudah sejak lama meminta agar mereka segera pindah dari kontrakan. Namun teguran itu tak pernah diindahkan oleh mereka. Menurutnya, para mahasiswa itu sudah berada di kontrakan itu sejak dua tahun belakangan.

“Ketika dimintai identitas, mengelak. Tidak diberikan sampai 2 tahun,” terang Deni.

Rumah Deni sendiri berada persis berada di depan kontrakan. Deni mengungkapkan, hampir setiap hari mereka membuat gaduh.

“Nggak ada sepinya orang, gaduh, tempat kumpul anak-anak Papua, dan minum. Kalau sudah mabuk, teriak-teriak,” imbuhnya.

Setidaknya ada sekitar 15 orang yang berada di kontrakan itu setiap harinya. Padahal, yang mengontrak hanya sekitar 6 orang.

“Kalau yang (penghuni) tetap sekitar 6 orang. Yang kelihatan setiap hari lebih dari 15 orang. Tidak bisa bedakan tamu atau penghuni,” ujarnya bercerita.

Sampai saat ini, warga setempat masih bersiaga, berjaga-jaga jika seumpamanya terjadi kerusuhan lagi.

Sementara itu, Kompol Pujiyono selaku Kapolsek Lowokwaru mengungkapkan, pihaknya masih belum bisa memastikan apa yang sebenarnya terjadi.

“Tadi itu Polsek bilang gini. Saya tidak tahu apa-apa, hanya dapat laporan. Ini diserahkan ke Polres. Semua sudah ranah Polres,” ucapnya.

Sementara itu, Kapolres Malang Kota AKBP Asfuri belum bisa dimintai keterangan mengenai insiden tersebut.

Secara terpisah, seperti dilansir dari akun Facebook Aliansi Mahasiswa Papua (AMP), mereka menuliskan klarifikasi terkait hal itu.

Di laman tersebut dituliskan bahwa massa aksi AMP KK Malang, yang sedang diskusi di kontrakan IPMAPAPARA Malang, Minggu (01/07/2018) malam dibubarkan secara paksa dan diusir dari kontrakan oleh TNI, POLRI, serta Ormas Reaksioner.

Kontrakan itu digerebek dengan kasar, massa AMP dipukuli, diludahi, dicaci maki, dilempari batu hingga berdarah. Setelah melihat kawan mereka terluka, beberapa mahasiswa lainnya terlibat saling dorong dan akhirnya pecahlah kericuhan akibat provokasi pihak kepolisian. Namun, hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari pihak AMP.

Polres Malang Kota Pertemukan Warga dan Mahasiswa Papua

Rencananya, pihak Polres Malang Kota akan melakukan pertemuan dengan mahasiswa asal Papua serta masyarakat sekitar Jalan MT Haryono, Kelurahan Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Hal itu untuk menindaklanjuti peristiwa kericuhan yang terjadi Minggu malam (01/07/2018).

Menurut Kapolres Malang Kota, AKBP Asfuri menyebutkan, hari ini pertemuan dilakukan.

“Kami lakukan pertemuan antara mahasiswa Papua dengan masyarakat di lokasi (peristiwa kerusuhan), juga minta dari pemerintahan hadir. Termasuk DPR, Camat, Lurah, dan RT RW,” sebutnya pada, Senin (02/07/2018).

Dikatakan Asfuri, tujuan pertemuan ini tak lain untuk mencari solusi terbaik, agar permasalahan ini tidak berkembang.

“Masyarakat tidak terprovokasi, mahasiswa juga tidak terprovokasi,” jelasnya.

Dia menyampaikan, jika tujuan mahasiswa tersebut ke Malang untuk belajar, mencari ilmu, ataupun berkembangnya Papua, tentu akan didukung.

“Yang penting tidak ada yang melanggar peraturan perundang-undangan atau mengganggu ketertiban umum,” tandasnya.

Sementara itu, diceritakan Asfuri, pada Minggu (01/07/2018) malam di jalan MT Haryono, Kelurahan Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang telah terjadi adu mulut antara masyarakat dengan mahasiswa Papua. Pada saat itu mereka melakukan kegiatan diskusi dan rencana pemutaran video peringatan kemerdekaan Papua Barat di rumah kontrakan yang ada di jalan MT Haryono gang VIII.

“Masyarakat sudah mendengar informasi tersebut di medsos. Sebelum terlaksana, masyarakat mendatangi (kontrakan), termasuk ketua RT meminta agar mahasiswa ini tidak melakukan diskusi atau pemutaran video tersebut, karena bertentangan dengan NKRI,” ungkapnya.

Akan tetapi, lanjut dia, terjadi adu mulut. Karena dari pihak mahasiswa ingin tetap melaksanakan. Akhirnya masyarakat pun meminta mereka untuk keluar. Kemudian dari pihak kepolisian datang untuk mengamankan agar tidak terjadi permasalahan lebih lanjut.

Asfuri menyebutkan, saat itu memang sempat terjadi lempar batu, namun tak ada korban. Mahasiswa Papua itu pun dibawa dan diarahkan ke Polsek, namun mereka meminta ke Polres dengan berjalan kaki.

“Ya, mereka kesini dan langsung saya temui. Ada sekitar 40 orang yang datang,” ungkapnya.

Malam itu memang belum diperoleh keputusan. Harapannya, dari pertemuan hari ini bisa ada hasil dan jalan keluar yang terbaik bagi seluruh pihak.