Sama-Sama Besar di NU. Ternyata Ini Penyebab Kemenangan Khofifah di Pilgub


SURATKABAR.ID –  Tingkat kepopuleran Khofifah Indar Parawansa-Emil Elestianto Dardak membuat paslon ini menang di Pilgub Jatim. Keduanya jauh meninggalkan rivalnya Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno dalam pertarungan merebut kepemimpinan Jawa Timur periode 2018-2023.

Berdasarkan hitung cepat Komisi Pemilihan Umum (KPU) dari data C1, Khofifah-Emil memperoleh suara 53,74 persen, sementara Gus Ipul-Puti sebesar 46,26 persen. Perbedaan suara kedua kompetitor itu mencapai tujuh persen.

Bila dilihat suara per wilayah di Jawa Timur, Khofifah-Emil setidaknya unggul di 27 kabupaten/kota, sedangkan Gus Ipul-Puti hanya di 11 kabupaten/kota.

Pengamat politik dari Universitas Jember, Eko Ernada menilai keunggulan Khofifah-Emil dari Gus Ipul-Puti tak terlepas oleh dukungan para kiai di luar kepengurusan NU. Eko menyebut atas wejangan kiai-kiai itulah para pemilih lantas mengarahkan suara kepada Khofifah-Emil.

Baca Juga: Unggul di Quick Count, Khofifah Katakan Hanya akan Pilih Jokowi di Pilpres 2019

“Menurut saya, itu adalah dukungan kiai, itu yang utama. Kiai di luar struktur NU ya, karena NU kan mendukung (Gus Ipul-Puti),” terang Eko dikutip dari CNNIndonesia.com, Jumat (29/6/2018).

Baik Khofifah maupun Gus Ipul memang sama-sama besar di NU. Khofifah aktif dalam organisasi PP Muslimat, sementara Gus Ipul pernah memimpin GP Ansor dan menjadi pengurus PBNU. Kini, Gus Ipul merupakan kader Partai Kebangkitan Bangsa.

Eko mengatakan kiprah Khofifah di panggung politik Jawa Timur sebenarnya masih bisa terhambat. Sebab sejumlah kiai mempersoalkan masalah gender dalam membicarakan kepemimpinan, termasuk dalam pesta demokrasi lima tahunan ini.

Meski begitu, kata Eko, kiai-kiai di luar struktur NU menilai Khofifah meski perempuan dianggap mempunyai kemampuan dan prestasi.

Selain peran kiai di luar struktur NU, pemilih rasional di Jawa Timur juga cukup membantu perolehan suara Khofifah-Emil dan menggusur perolehan petahana.

Bila Khofifah-Emil menang, mantan Menteri Sosial itu bakal mencetak sejarah sebagai gubernur Jawa Timur perempuan pertama.