Mengenal Tradisi Terater di Madura yang Sarat Akan Makna

SURATKABAR.IDBagi masyarakat Madura, hari raya Idul Fitri tidak lengkap tanpa dirayakan dengan Lebaran Ketupat.

Lebaran Ketupat tidak dirayakan tepat pada 1 Syawal, melainkan setiap tanggal 7 Syawal. Itu artinya setelah umat Muslim selesai menunaikan puasa Syawal selama enam hari.

Namun, menu Lebaran Ketupat di Madura tidak langsung disantap. Menu ketupat dan opor ayam dibawa ke imam masjid atau mushala setempat.

Setelah makanan terkumpul banyak, para warga yang biasa shalat berjamaah di masjid atau mushala berkumpul dan menggelar doa bersama.

“Setelah doa bersama selesai, masakan yang diantarkan masyarakat kemudian disajikan kepada yang membaca doa,” kata Hafiduddin, salah satu tokoh masyarakat di Desa Tentenan Timur, Kecamatan Larangan, Pamekasan, dikutip dari Kompas, Kamis (15/8/2013).

Baca juga: Unik! Tradisi Jelang Lebaran Ini Hanya Bisa Ditemukan di Indonesia

Menurut Hafiduddin, tradisi Lebaran Ketupat ini disebut Terater. Warga Madura terus memelihara tradisi ini untuk mempererat tali persaudaraan antar muslim.

Ritual ini juga sekaligus sebagai tanda syukur kepada Tuhan karena diberikan kemampuan melanjutkan puasa selama enam hari setelah puasa wajib di bulan Ramadhan.

“Meskipun tidak semua warga mampu melanjutkan puasa di bulan Syawal, tetapi tradisi Terater dan doa bersama tetap digelar sebagai tanda syukur kepada Allah,” katanya.

Tradisi Terater tidak hanya kepada seorang imam masjid atau mushala saja. Tetapi juga kepada warga miskin dan janda tua yang tidak mampu memasak ketupat ataupun memotong ayam.

“Orang miskin, orang jompo dan janda tua bisa menikmati ketupat dan masakan ayam di Lebaran ketupat ini karena tradisi Terater ini,” ujar Hafiduddin.

Menurutnya, tradisi ini juga dilakukan oleh anggota keluarga yang sudah memisahkan diri dari orangtuanya karena membangun keluarga baru. Sehingga hilir mudik masyarakat untuk Terater ke rumah orangtuanya ataupun mertuanya mirip dengan suasana Idul Fitri.