Korlantas: Merokok dan Dengarkan Musik Saat Berkendara Tak Dilarang


SURATKABAR.ID – Baru-baru ini muncul kabar bahwa polisi akan menilang para pengemudi kendaraan yang merokok dan mendengarkan musik sambil mengemudi menimbulkan pro kontra dan polemik tersendiri. Sanksi akan ditetapkan polisi karena dalam UU dikatakan bahwa para pengemudi wajib mengemudi dalam kondisi yang wajar dan penuh konsentrasi. Sebagai tanggapan, Direktur Penegakan Hukum Korlantas Polri Brigjen (Pol) Pujiono Dulrahman menuturkan, tak ada larangan merokok dan mendengarkan musik saat mengendarai kendaraan.

“Kami pahami UU tersebut yang dimaksud penuh konsentrasi adalah setiap orang pengemudi kendaraan bermotor dengan penuh konsentrasi dan perhatian, tidak terganggu perhatiannya karena contohnya kelelahan, sakit, ngantuk, menggunakan telepon, menonton televisi saat berkendaraan. Kalau sedang mendengarkan radio seperti sekarang tidak ada masalah,” papar Pujiono, Jumat (02/03/2018), kepada Radio Sonora, seperti dilansir dari reportase Kompas.com, Sabtu (03/03/2018).

Di lain pihak, pada Kamis (01/03/2018), Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP Budiyanto melontarkan pernyataan yang berbeda. Menurut penilaian Budiyanto, mendengarkan musik dan radio beserta kegiatan lain, seperti merokok, menggunakan ponsel, dan terpengaruh minuman beralkohol, adalah bentuk pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Hal ini tercantum dalam Pasal 106 Ayat 1 juncto Pasal 283.

Sehubungan pendapat Budiyanto mengenai larangan mendengarkan musik, Pujiono menyampaikan bahwa hal itu kurang tepat.

“Mendengarkan musik itu yang dilarang (adalah) mendengarkan musik dengan gerakan-gerakan berlebihan—itu yang enggak boleh. Tapi kalau mendengarkan saja tidak masalah,” imbuhnya.

Gerakan berlebih yang dimaksudkan Pujiono contohnya seperti mendengarkan musik diiringi dengan karaoke yang menggunakan alat bantu lain, seperti mikrofon. Karena pasalnya, hal ini dikhawatirkan akan memecah perhatian pengemudi.

“Yang kedua terpengaruh minuman, mendengarkan musik tapi minum (beralkohol) dulu atau dengan obat-obat dulu, itu yang enggak boleh. Kalau dia wajar-wajar saja, saya rasa tidak masalah,” tukasnya.

Sementara itu, Polda Metro Jaya melalui Kabid Humas Kombes Argo Yuwono juga ikut merespon. Argo Yuwono mengatakan, merokok dan mendengarkan musik saat berkendara diperbolehkan.

“Kalau orang sedang nyetir macet stres, merokok boleh, merokok saja, kok. Mendengarkan musik boleh, jadi kalau macet boleh. Denger musik saja boleh-boleh saja. Kecuali, kalau merokok dan puntungnya kena orang, nah baru (tidak boleh),” imbuhnya di Mapolda Metro Jaya, Jumat (02/03/2018).

Argo menguraikan, ada lima hal yang tak boleh dilakukan saat berkendara. Hal tersebut adalah melaju dengan melawan arah, tidak menggunakan helm, mengendarai kendaraan sambil mengoperasikan ponsel, berboncengan dengan jumlah berlebihan, dan mengendarai kendaraan saat masih berusia di bawah umur.

Argo memperbolehkan pengendara mendengarkan musik saat tengah berkendara. Namun, saat ditanya apakah pengendara boleh merokok saat berkendara, ia tak menjawab dengan lugas.

“Yang penting tidak mengenai pengendara lain puntungnya,” tandasnya tanpa menjelaskan boleh tidaknya merokok saat kendaraan melaju dan mengakhiri wawancara dengan awak media.

Volume dalam Batas Wajar

Sedangkan dalam reportase Viva.co.id, Kepala Korlantas Polri Irjen Pol Royke Lumowa mengatakan bahwa mendengar musik atau radio saat berkendara sebenarnya boleh-boleh saja. Asal dalam batas wajar dengan volume yang tidak keras-keras.

“Dengarkan radio boleh dalam keadaan nyetir, yang penting suaranya jangan keras-keras. Jangan sampai mengganggu suara sinyal-sinyal lalu lintas,” kata Royke di Jakarta, Jumat (02/03/2018).

Royke Lumowa menegaskan, yang dilarang adalah bermain ponsel saat berkendara di jalan. Tentunya dikarenakan perilaku ini berbahaya serta berpotensi menimbulkan terjadinya kecelakaan.

“Nyetir atau mengendarai kendaraan sambil main ponsel atau gadget itu tidak boleh. Dengarkan musik dengan handsfree yang terlalu keras berbahaya,” urainya.

Tak hanya bermain telepon selular, pengemudi yang berkendara sambil menonton televisi juga dilarang karena bisa membuyarkan tingkat konsentrasi. Potensi untuk ditindak pun terbuka lebar.

“Sopir atau pengemudi nonton televisi sambil nyetir itu juga enggak boleh. Main sirkus itu namanya,” demikian ia menegaskan.

Tak Akan Kena Tipiring

Lansiran dari reportase Tirto.ID, Royke Lumowa menegaskan pengendara sepeda motor dan mobil yang mendengarkan musik dan merokok juga tak akan kena pidana. Sebab, larangan itu tidak tercantum dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

“Itu tidak benar [pengendara yang merokok dan mendengar musik bisa dipidana]. Tidak ada aturan seperti itu di Undang-undang nomor 22 tahun 2009, makanya ini saya luruskan,” ujar Royke, Jumat (02/03/2018).

Royke juga menyampaikan bahwa pengendara yang merokok dan mendengar musik tak bisa mendapatkan sanksi tindak pidana ringan (tipiring) saat Polisi melakukan penilangan.

“Siapa yang ditilang? Memangnya ini melanggar?” tukas Royke.

 

Loading...