PDIP Sebut Ada Keinginan Publik untuk Duetkan Jokowi dengan Prabowo


SURATKABAR.ID – Andreas Hugo Parreira yang merupakan Ketua DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menyebutkan bahwa partainya sampai saat ini belum terpikirkan untuk menduetkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) Widodo dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. Meski demikian, ia mengklaim ada keinginan publik di akar rumput untuk menduetkan dua tokoh yang berpotensi akan bertarung di Pilpres 2019 tersebut.

“Memang ada keinginan-keinginan masyarakat untuk menduetkan Pak Prabowo dengan Pak Jokowi ya. Tapi kita lihat,” ujar Andreas di Kantor DPP PDIP, Jakarta, Rabu (03/01/2018). Demikian sebagaimana dikutip dari reportase CNNIndonesia.com, Kamis (04/01/2018).

Agar diketahui, wacana duet Jokowi-Prabowo muncul dari hasil survei lembaga Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang dirilis pada Selasa (02/01/2018).

Dalam hasil surveinya, SMRC menyatakan bahwa responden menyambut baik opsi duet Jokowi-Prabowo di Pilpres 2019.

Baca juga: Begini Penampakan Tanggul Baswedan di Jatipadang yang Baru Diperbaiki

Berdasarkan hasil survei tersebut, sebanyak 67 persen atau mayoritas responden setuju jika Prabowo dijadikan Cawapres untuk mendampingi Jokowi.

Sementara sisanya, yakni sebanyak 28,4 persen menyetujui jika Prabowo menduduki posisi calon presiden dan Jokowi sebagai calon wakil presiden.

Andreas melanjutkan, hingga saat ini, proses komunikasi antara Jokowi dan Prabowo masih terjalin dengan baik.

Ia juga menilai, Jokowi belum dideklarasikan oleh PDIP sebagai calon presiden di 2019 sampai saat ini karena mantan Wali Kota Solo itu adalah kader sendiri. Selain itu, PDIP lewat AD/ART juga telah memerintahkan agar mengawal pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla.

“Itu perintah AD/ART. Jadi itu enggak perlu teriak-teriak lagi,” tukas Andreas.

Masih Didominasi Politikus Lama

Sebelumnya, masih oleh lembaga survei yang sama, Pemilu 2019 digadang-gadang merupakan penanda akhir dari era dominasi politikus lama. Indikasinya sudah dimulai sejak akhir tahun 2017, ketika pilihan pemimpin dalam berbagai survei hanya berkutat pada nama Jokowi dan Prabowo.

“Kita bisa mengatakan memang pemimpin-pemimpin lama masih mendominasi. Pemimpin baru belum ada yang mampu menyainginya. Ini menunjukkan era pemimpin lama akan segera berakhir karena hanya dua nama itu,” tutur Direktur Eksekutif Saiful Mujani Research Centre (SMRC) Djayadi Hanan, di Kantor DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Jakarta, seperti dilansir dari CNNIndonesia.com, Kamis (09/11/2017) lalu.

Djayadi memandang sosok politikus baru belum menjadi pilihan utama publik untuk Pemilu mendatang. Namun, mereka berpotensi merajai peta politik Indonesia mulai Pemilu 2024.

Baca juga: Freeport Kembali Dapatkan Perpanjangan Sementara Izin Pertambangan

“Memang pemimpin baru dianggap masyarakat baru akan mulai populer pada 2024 ke sana,” tambahnya.

Seperti diketahui, berdasarkan hasil sejumlah survei yang dilakukan sepanjang 2017 lalu, terbukti bahwa deretan nama Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Gatot Nurmantyo, Hary Tanoesoedibjo, Anies Baswedan, hingga Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), rata-rata hanya mendapat pilihan kurang dari 2 persen responden.