Diaggap ‘Tusuk’ Tradisi NU, Begini Kritikan Tajam Mahfud MD ke Abu Janda Soal Hadis



SURATKABAR.ID – Pada Selasa (5/1/2017) malam, acara Indonesia Lawyer Club di TVone diwarnai dengan perdebatan sengit mengenai ada atau tidaknya bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang dikibarkan pada reuni 212 yang sudah digelar beberapa waktu yang lalu.

Salah satu pegiat media sosial yang dihadirkan di acara tersebut yakni Permadi Arya atau yang lebih populer dikenal sebagai Abu Janda Al-Boliwudi merasa yakin jika bendera ormas terlarang itu berkibar dalam acara yang sudah dihelat pada akhir yang lalu.

Dan sementara itu di sisi lainnya, salah satu penceramah kontroversional yakni Ustaz Felix Siau merasa bendera yang dimaksud oleh Abu Janda bukalah bendera yang dimaksud.

Di dalam penjabaran Ustaz Felix yang mengutip beberapa hadis terkait bendera yang dimaksud adalah bendera Panji Rasulullah. Menanggapi kutipan tersebut Abu Janda kemudian mempertayakan patokan hadis yang disebutkan ustaz kelahiran Palembang tersebut.

Baca juga: Mengejutkan! Begini Peruntungan Jokowi Jika Dipasangkan dengan Gatot di Pilpres 2019

“Yang saya tahu, hadis itu baru ada sekitar 200 tahun setelah Rasul wafat, jadi banyak yang dhaif (palsu). Jadi itu enggak bisa jadi pegangan,” ujarnya, seperti yang diwartakan oleh Viva.co.id

Dan penjelasan dari Abu Janda itu mendapatkan kritikan yang cukup pedas dari salah satu tokoh Nahdlatul Ulama Indonesia yang juga mantan ketua Mahkamah Konstitusi Indonesia Mahfud Md. Berdasarkan Mahfud MD, penjelasan yang dilontarkan oleh Abu Janda bertentangan denga keyakinan di dalam tradisi NU.

Mahfud kemudian menjelaskan jika hadis memang telah disistemisasi dua abad pasca nabi Muhammad SAW wafat. Namun, hal tersebut bukan berarti jika hadis yang dimulai disusun setelah kematian rasulullah SAW adalah hadis palsu.

“Saya kritik mas Abu Janda yang mengatakan hadis yang hadir 200 tahun sesudah nabi wafat itu dhaif, itu sangat berpandangan dengan tradisi NU. Hadis itu memang ditulis, diteliti dan dihimpun 200 tahun sesuah nabi wafat. Ini bisa dipercaya,” ujar Mahfud, yang merupakan mantan Menteri Hukum dan Perundang-undangan di era Presiden Abdurrahman Wahid ini.

Baca juga: Apes! Temukan ‘Harta Karun’ Di Kebunnya Sendiri, Bukannya Jadi Jutawan Petani Ini Malah Masuk Tahanan

Mahfud MD juga menjelaskan lantaran diteliti ada tingkatan kualitas hadis, misalnya saja Hadis Mutawatir. Ini merupakan hadis yang didengar banyak orang dan dengan demikin tidak bisa terbantahkan lagi kesahihanya. Selain itu ada pula Hadis Sahih. Hadis ini merupakan hadis yang tingkatan kebenarannya nomor satu dan hampir dipastikan kebenarannya. Dan di dalam sebuah hadis itu ada sanad atau sandaran serta terdapat periwayatan yang jelas.

Hadis sahih, periwayatannya haruslah benar-benar diuji kualitasnya. Periwayatannya harus memiliki kriteria orang yang jujur, tak pernah lupa, bersih dan jika memiliki hutang pasti dibayar dan nyaris tidak pernah melakukan kesalahan.

“Hampir dipastikan itu (hadis) benar meski (hadir setelah) 200 tahun. Itu (penjelasan Abu Janda) menusuk tradisi pesantren,” jelasnya.

Komentar

komentar