Astaganaga! Rumah Kusam Kasipan Dihargai 17 Unit Apartemen Meikarta Hanya Gara-gara Ini


SURATKABAR.ID – Baru-baru ini rumah kediaman Kasipan (52) warga Surabaya menggegerkan publik. Bagaimana tidak. Rumah bercat merah kusam dengan gaya arsitektur seadanya ini jauh dari kata mewah. Bahkan tak ada halaman di depannya. Tetapi rumah ini ditafsir seharga 17 unit apartemen.


Tak tanggung-tanggung. Bukan apartemen biasa yang disebutkan, melainkan Meikarta yang digadang-gadang sebagai hunian mewah kelas atas di daerah ibu kota. Jika melihat kondisi rumah Kasipan yang hanya seluas 158 meter persegi ini, pasti menduga hal tersebut hanyalah berita asal-asalan.

Diwartakan laman Grid.Id, rumah tersebut ditawar dengan harga Rp 2,2 miliar. Jadi dengan kisaran unit paling murah yang dimiliki Meikarta, yakni senilai Rp 127 juta, maka dengan uang hasil penjualan rumah milik Kasipan tersebut dapat terbeli sebanyak 17 unit apartemen. Wow, sungguh fantastis, bukan?

Usut punya usut, hitungan tersebut memiliki dasar. Ternyata rumah Kasipan merupakan satu-satunya rumah yang belum bisa dirobohkan oleh Pemerintah Kota Surabaya dalam proyek frontage road Jalan Ahmad Yani, yang merupakan jalan raya paling padat di Kota Pahlawan.

Baca Juga: Pesawat Batal Take Off dan Turunkan Paksa Penumpang Wanita Ini. Alasannya Bikin Heboh

Meski sesungguhnya proyek tersebut telah tuntas, namun lantaran rumah Kasipan masih tegak berdiri, menyebabkan proyek tak sepenuhnya selesai. Dan Kasipan pun bukannya menolak untuk menjual tempat tinggalnya tersebut. Ada masalah terkait hak waris rumah yang masih sengketa.

“Persil saya ini ada sengketa. Ada sertifikat lain yang diterbitkan oleh BPN, padahal kami sudah memiliki bukti kepemilikan persil berupa SPHS yang diterbitkan pada tahun 1960,” tutur Kasipan, seperti yang dikutip dari Grid.Id, Senin (13/11/2017).

Diketahui surat kepemilikan baru atas persilnya keluar pada tahun 2010. Lantaran kepemilikan ganda tersebut, persil itu tak dapat diganti rugi oleh Pemkot dengan proses normal. Persil tersebut saat ini tengah diproses melalui pengadilan dengan nilai pembebasan sebesar Rp 2,2 miliar.

Malang, kasus tersebut bukan hal mudah yang bisa langsung selesai seketika. Dan ini membawa penderitaan tersendiri bagi Kasipan yang masih menempati rumah warisan tersebut. Ia tak dapat tinggal dengan tenang, lantaran kondisi jalan raya yang padat. Terlebih dengan polusi udara yang menyesakkan.

Baca Juga: Dicerca Rumor Pernikahan dengan Umi Pipik, Begini Jawaban Pedas Sunu Eks Matta Band

Lebih miris lagi, usahanya berjualan es kelapa muda dan jasa bengkel tak dapat dilanjutkan dengan semakin sedikitnya pelanggan yang mampir dengan kondisi jalan raya yang selalu ramai tersebit. Sementara untuk membeli tempat tinggal baru, ia mengaku masih belum memiliki uangnya.

“Ya tentu merasa dirugikan. Kalau dihitung dengan jumlah ahli waris delapan orang, uang segitu kami hanya dapat berapa. Uang segitu tidak bisa dipakai untuk beli rumah di lokasi Ahmad Yani,” keluh Kasipan yang merasa lokasi tersebut strategis untuk membuka usaha.

Komentar

komentar


Berita Terpopuler