Nilai Elektabilitas Jokowi Meroket Tajam, Begini Komentar Menggelitik Roy Suryo


SURATKABAR.ID –  Terkait begitu tingginya tingkat kepuasan masyarakat hingga elektabilitas Presiden Joko Widodo (Jokowi), Wakil Ketua Umum DPP Partai Demokrat Roy Suryo menuding hal tersebut disebabkan adanya peran buzzer politik di dunia maya.


Namun meskipun demikian ia tetap memuji kinerja buzzer tersebut. Hal tersebut diungkapkan oleh Roy Suryo ketika menghadiri rilis survei Indikator Politik Indonesia yang diselenggarakan di Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (11/10), seperti dihimpun oleh Kompas.com.

“Saya juga melihat di dunia maya. Saya juga mengapresiasi kepada para tim yang berada di balik pencapaian ini. Timnya bekerja begitu luar biasa ekstra keras,” ujar Roy yang hadir sebagai penanggap dalam rilis survei tersebut, seperti dikutip dari laman Kompas.com, Kamis (12/10/2017).

Dalam survei yang dilakukan pada 17-24 September 2017, diketahui bahwa tingkat kepuasan masyarakat terhadap tiga tahun masa pemerintahan Jokowi-JK mencapai angka 68,3 persen. Sementara elektabilitas Jokowi mencapai 34,2 persen, di mana responden tak mendapatkan pilihan nama.

Baca Juga: Dijanjikan Bakal Dapat Fasilitas Mewah, Ini Peringatan Keras Luhut Kepada Anies Baswedan

Yang mengejutkan terlihat jelas saat responden diberi pilihan 8 nama, di mana jokowi mendapatkan hasil sebanyak 54,6 persen. Dan ketika simulasi ‘head to head’ yang dilakukan seperti Pilpres 2014 lalu, Jokowi mengantongi 58,9 suara dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto hanya 31.3 persen.

Roy mengungkapkan para buzzer yang mengangkat hasil perolehan Jokowi selalu memberikan apresiasi pemberitaan positif terhadap Pemerintahan Jokowi. Namun jika ada pihak yang mengungkapkan kritikannya, mereka akan membalas dengan serangan yang lebih ganas.

“Jadi kalau ada berita dan komentar bagus tentang Pak Jokowi langsung timnya bergerak emot jempolnya banyak langsung. Tidak ada yang berani masyarakat mengkritik. Kalau ada yang mengkritik itu langsung diserang dengan 10 bahkan 100 hujatan. Saya pun mengalami,” tambah Roy lebih lanjut.

Menurut Roy, fenomena buzzer seperti ini baru dapat dijumpai pada masa Pemerintah Jokowi-Jusuf Kalla. Namun sayangnya ia menilai hal tersebut memiliki dampak negatif pasalnya dapat membentuk pemerintahan yang anti terhadap kritikan yang muncul.


“Pemerintah kalau ada kritikan terbuka saja, demi kemajuan bangsa ini. Jangan alergi dengan kritik, harus ada ruang kritik. Karena semua rezim tidak pernah ada yang semuanya bagus, termasuk Pak SBY,” tukas Roy dengan tegas.

Loading...

Komentar

komentar