Antara BJ Habibie, Soeharto, Soekarno Dan Masa Depan Bangsa



SURATKABAR.ID Sebagai seorang kepala negara yang memiliki dasar sebagai ilmuwan bukan politisi, selalu ada kisah yang menarik dari Prof Dr Ing BJ Habibie. Kisah ini pun terjadi manakala Presiden ke tiga Republik Indonesia tersebut dipanggil pulang ke Indonesia oleh Presiden kedua Soeharto puluhan tahun yang lalu.

Seperti dilansir dari JPNN.com, rupanya Habibie saat itu tidak bersedia pulang sebelum Soeharto mau menjawab dua pertanyaan yang selama ini selalu mengganjal di hatinya selama ini soal Indonesia.

“Pertanyaan saya yang pertama, kenapa Bung Karno diperlakukan tidak adil oleh Soeharto. Kedua, saya tanyakan kenapa Tim Tim (Timor Timur) bisa masuk ke Indonesia karena sesuai UU Indonesia bukan negara penjajah,” kata Habibie saat dialog di Gedung MPR RI, Selasa (22/08/2017).

Baca juga: Habibie Bertanya, Kenapa Bung Karno Diperlakukan Tidak Adil? Ini Jawaban Soeharto

Pertanyaan yang pertama menurut Habibie, mendapat jawaban dari Soeharto bahwa setiap orang memang memiliki jalan yang berbeda untuk bisa mencapai kebenaran. Namun, Bung Karno sudah melenceng dari jalan yang harusnya dilalui.

“Kata Presiden Soeharto, kalau dia tidak mengambil langkah itu, akan terjadi sesuatu yang mengerikan dengan bangsa ini,” ujar Habibie.

Sedangkan bagi pertanyaan kedua, Habibie menjelaskan, bahwa Soeharto menjawab terpaksa harus melaksanakan keputusan MPR RI yang memerintahkan pengambilalihan Tim Tim kala itu. Disamping, memang warga propinsi yang kini telah menjadi negara Timor Leste tersebut memang minta bergabung dengan NKRI.

“Usai mendapat penjelasan itu, saya baru tanya kenapa saya diminta pulang. Presiden Soeharto bilang, saya disuruh buat industri strategis di Indonesia tapi saya bilang nggak mau bikin alutsista. Saya penginnya bangun industri pesawat komersil. Usulan saya disetujui dan 50 tahun lalu industri dirgantara kita maju pesat,” kenangnya.


Segala cerita dari masa lalu tersebut memang diharapkan jadi pelajaran yang berharga bagi bangsa ini, khususnya dalam menjaga keutuhan NKRI dan juga Pancasila sebagai dasar negara.

Sementara terkait dengan perkembangan jaman saat ini, seperti dilansir dari Kompas.com Habibie menyampaikan ada tiga dasar penerapan nilai-nilai Pancasila dalam upaya mencapai ketahanan nasional yang kokoh. Tiga dasar itu adalah agama, budaya, dan ilmu pengetahuan.

Habibie menjelaskan, sejak lahir manusia telah diajarkan oleh orang tuanya mengenal budaya. Ketika tumbuh dan berkembang di masyarakat ada pembudayaan nilai-nilai pada dirinya.

Saat usia anak-anak, manusia mulai diajarkan ajaran agama oleh orang tuanya. Maka dari itu, ia menyebut, nilai-nilai budaya itu lebih dulu ada atau dikenal oleh seorang manusia dibandingkan agama. Dengan kata lain, hasil budaya itu disempurnakan oleh agama.

Baca juga: Sukses Jadi BJ Habibie, Reza Rahardian Akan Perankan Chairil Anwar?

Kemudian Habibie menerangkan, dari dunia pendidikan, orang tersebut mengenal ilmu pengetahuan. Oleh karenanya dia menyebutkan, iman dan taqwa (imtaq) sama pentingnya dengan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek).

 

Loading...

Komentar

komentar