Mempertanyakan Kinerja Para Penyerang Garuda Muda



SURATKABAR.ID Timnas Indonesia U-22 sudah melakoni dua laga awal di SEA GAMES Malaysia 2017, hasilnya memang positif. Berhasil menahan imbang Thailand (1-1) serta menang telak atas Filipina (3-0). Permainan Garuda Muda juga memang enak ditonton, namun performa lini depan yang layak jadi perhatian.

Mengapa layak diperhatikan? Dalam dua laga tersebut Timnas menggunakan dua striker tunggal yang berbeda. Saat melawan Thailand, mereka menggunakan Marinus Manewar sebagai ujung tombaknya. Sedangkan di laga kedua saat mengalahkan Filipina, penyerang Ezra Walian dipasang Luis Milla sebagai penyerang utama.

Meskipun sebenarnya dua pemain ini punya karakteristik yang berbeda, namun nyatanya pada saat bermain bagi Garuda Muda di SEA GAMES, mereka justru punya kesamaan. Beberapa kesamaan tersebut adalah, sama – sama gagal mencetak gol, dan sama – sama bermain pasif, lebih banyak menunggu bola.

Tentu saja hal seperti inilah yang membuat banyak pecinta sepakbola di Tanah Air jadi bertanya – tanya dibalik euforia mereka melihat Timnas yang tampil makin PEDE dari hari ke hari.

Bagian Dari Taktik?

Sebaiknya kita tidak berburuk sangka dulu dengan dua penyerang pilihan Luis Milla tersebut. Karena bila kita menakar rekam jejak Marinus maupun Ezra di klubnya masing – masing, jelas mereka sangat layak mendapatkan slot di lini depan Timnas.

Lalu apa yang terjadi, kenapa keduanya malah tampak ‘melempem’? Jawabanya bisa jadi ini memang bagian dari taktik arsitek lapangan hijau asal Spanyol tersebut.

Merujuk dari rekam jejak Milla di Timnas Spanyol U-21 dahulu, rupanya Milla bukanlah tipikal pelatih yang menggantungkan gol dari penyerang. Simak saja bagaimana perjalanan Timnas Spanyol U-21 pemenang Piala Eropa 2011, yang diarsiteki Milla.

Tim tersebut sama sekali tidak menelorkan penyerang hebat. Dari beberapa penyerang yang dibawa, tercatat hanya Iker Muniain (Athletic Bilbao) yang hingga kini namanya masih lumayan dikenal.

Baca juga: Ini Dia Tiga PR Luis Milla Di Timnas U-22 Sebelum Lawan Filipina

Hal tersebut bertolak belakang dengan pasukan gelandang. Hampir semua pemain tengah Milla di Piala Eropa 2011, kini jadi pemain – pemain top di klubnya masing – masing. Sebut saja Thiago Alcantara, Juan Mata, Ander Herrera, Dani Parejo, dan Javi Martinez.

Urusan mencetak gol, di timnas Spanyol era Milla juga lebih banyak dijalankan oleh para gelandang serang, sebut saja Juan Mata, atu Jeffren Suarez dan Ander Herrera.

Tampaknya dalam pola khas tiki-taka nya, Milla lebih senang menjadikan penyerang dengan body balance kuat (seperti Marinus dan Ezra) sebagai tembok pemantul bagi para gelandang serang. Sehingga para penyerang tidak dituntut untuk bekerja keras. Pelatih berusia 51 tahun ini lebih suka striker nya bermain efektif dan hemat energi, daripada harus mati –matian mengejar bola.

Penyerang bagi filosofi sepakbola Luis Milla bukannya tidak penting, justru sangat penting sekali. Karena striker disini harus bisa menjadi pemantul dan pelindung bola, serta membuka ruang bagi rekan – rekannya yang lain. Dan yang lebih penting, tetap mampu jadi target man yang ganas dalam setiap peluang yang ada.

Baca juga: Begini “Pedasnya” Komentar Ketum PSSI, Soal Kiper Juventus yang Ogah Bela Timnas Indonesia

Fenomena tersebut seperti yang terjadi di Timnas Spanyol saat itu, meskipun punya barisan gelandang serang sebagai pencetak gol. Namun Adrian Lopez yang ditunjuk jadi penyerang utama juga tidak lupa tugas aslinya sebagai pencetak gol.

Kala itu, pemain depan Deportivo La Coruna tersebut berhasil menjadi top skor Piala Eropa U-21 dengan torehan 5 gol dari 11 laga.

Penyerang Indonesia harus lebih maksimal

Urusan jadi tembok pemantul dan membuka ruang, tampaknya sudah dikerjakan dengan baik oleh dua penyerang Timnas kita dalam dua laga yang berbeda. Nah sekarang tinggal urusan memaksimalkan peluang yang tampaknya belum bisa mereka lakukan.

Beberapa peluang yang mereka dapatkan tampak belum bisa dikonversikan menjadi gol. Mungkin memang mereka sedikit demam panggung atau juga adaptasi dengan kondisi lapangan di Shah Alam.

Sehingga layak ditunggu bagaimana aksi dua penyerang Garuda Muda tersebut dalam laga – laga berikutnya, mampukah mereka memecahkan telur golnya?

 

Komentar

komentar


Terpopuler