Sekarang Ilegal, Ternyata Begini Kisah Narkoba di Indonesia Zaman Dahulu


SURATKABAR.ID – Banyaknya korban yang terjerat hukum karena narkoba dan jenis obat-obatan lainnya, padahal jelas-jelas ilegal di Indonesia, tentunya menjadi kisah miris yang tiada akhir. Seperti kasus yang menimpa Tora Sudiro dan Mieke Amalia baru-baru ini. Keduanya diamankan karena diduga mengonsumsi narkoba.


Dilansir tribunnews.com, Rabu (9/8/2017), setelah melalui beberapa pemeriksaan, ditemukan sebanyak 30 butir pil dumolid yang dimiliki Tora Sudiro. Meskipun tak termasuk ke dalam jenis narkotika, namun pil tersebut termasuk kategori psikotropika golongan IV. Atas kepemilikan pil tersebut, aktor yang dikenal melalui program hiburan Extra Vaganza pun ditetapkan sebagai tersangka.

Jika sekarang ini mengonsumsi narkoba merupakan salah satu permasalahan paling serius yang dihadapi oleh Indonesia, berbeda dengan kisahnya pada masa lalu, di mana Pemerintah Kolonial menjadikan narkoba sebagai komoditas legal. Bahkan candu merupakan sumber pemasukan kas Pemerintah Kolonial di masanya, seperti dilansir tirto.id, Senin, (13/2/2017).

“Hampir 12 persen dari pendapatan Pemerintah Kolonial berasal dari monopoli opium dalam kurun waktu 1827 hingga 1833.” Demikian kutipan dari tulisan Marle Ricklefs yang termuat di dalam buku Sejarah Indonesia Modern 1200 – 2008.

Baca Juga: Inilah 8 Fakta Proklamasi Kemerdekaan RI yang Jarang Terungkap dan Wajib Anda Ketahui

Dan sementara itu, R.P. Suyono dalam bukunya tahun 2005, mengungkapkan bahwa pemerintah di masa itu turut menentukan peraturan tentang siapa saja yang boleh menjual narkoba kepada masyarakat.

Pada masa itu, Pemerintah Kolonial melokalisasi para pecandu. Bahkan di tangsi militer. Berdasarkan fakta tersebut, bisa dikatakan sekitar 60 persen sersan serdadu yang berasal dari suku Jawa pun merupakan pengguna obat-obatan yang ilegal di masa sekarang.

Bisa Anda saksikan di dalam film bersejarah, seperti Krakatoa (2006), di mana penggambaran masa itu menunjukkan tak hanya orang-orang Tionghoa yang berdagang saja yang memakai candu, namun juga orang-orang pribumi.

Bukti lain ditemukan pada sebuah gedung yang saat ini merupakan bagian dari Universitas Indonesia, Salemba. Dituliskan Aboe Bakar Lubis dalam Kilas Balik Revolusi: Kenangan, Pelaku, dan Saksi (1992), di sebelah kiri gedung berdiri pabrik candu. Namun setelah pendudukan Jepang, pabrik tak lagi difungsikan.


Bagian lain kisah narkoba pada zaman dahulu adalah sebuah gang kecil, yaitu Gang Madat di area Jalan Gajah Mada. Dalam Robinhood Betawi: Kisah Betawi Tempo Doeloe, Alwi Shahab mengungkapkan itulah tempat yang digunakan oleh orang-orang untuk menikmati narkoba. Hingga tahun 1950-an, setelah Indonesia merdeka, gang tersebut berubah nama menjadi Jalan Kesejahteraan dan Jalan Keselamatan.

Baca Juga: Kisah Bung Karno Menyoal Harga Garam

Kedatangan revolusi kemerdekaan, Pemerintah Republik Indonesia pun membuat perundang-undangan mengenai produksi, penggunaan dan distribusi dari jenis-jenis obat-obatan berbahaya (Dangerous Drugs Ordinance) oleh Menteri Kesehatan, seperti yang diungkapkan Humas Badan Narkotik Nasional (BNN), dilansir tirto.id.

Turunnya undang-undang tentang obat-obatan terlarang sayangnya tak membuat jumlah konsumsi narkoba berkurang. Hingga 1970-an, mariyuana atau ganja sebagai narkoba yang paling banyak dikonsumsi. Tanaman-tanaman tersebut dapat ditemukan dengan mudah di Aceh, Sumatera Utara dan Purwokerto.

Menurut Kapolri Hoegeng Iman Santoso dalam Hoegeng: Polisi Idaman dan Kenyataan (1993), meluasnya penggunaan narkoba dilatarbelakangi pengkonsumsian narkoba oleh anggota band pop kelas dunia seperti The Beatles dan Rolling Stones.

Ancaman narkotika merupakan hal yang sangat serius, di mana gaya, kehidupan dan juga musik-musik mereka menjadi kiblatnya anak-anak muda pada masa itu. Hoegeng bahkan menambahkan jika beberapa lagu band-band tersebut berisi penggambaran suasana mabuk yang dialami pecandu.

Hingga saat ini narkoba masih menjadi permasalahan yang menyelimuti seluruh dunia, tak hanya di Indonesia. Bahkan jenisnya pun semakin berkembang, tak hanya mariyuana atau ganja. Heroin, ekstasi, putaw, sabu-sabu, LSD dan obat-obatan psikotropika beredar dengan mudahnya dalam berbagai cara cerdik para produsennya.

Loading...

BAGIKAN

Berita sebelumyaSelfie, Habiburokhman: Ini Juga Gak Ada Tampang Diktator, Tampang Foto Model Iya
Berita berikutnyaWaspada! Panglima TNI Sebut Sudah Mulai Tumbuh Bibit Perpecahan Bangsa

Komentar

komentar


Berita Terpopuler