Habib Rizieq: Mau Rekonsiliasi atau Revolusi?


SURATKABAR.ID – Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab memberikan apresiasi terhadap diskusi yang digelar oleh Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI. Diskusi tentang uji Shahih Alat Bukti kasus chat HRS yang diselenggarakan di Hotel Balairung, Jakarta Timur pada Jumat (16/6/2017).


Seperti diwartakan republika.co.id, pada diskusi tersebut, panitia memutar rekaman suara sambutan Habib Rizieq Shihab dari Tanah Suci.

Habib Rizieq menyampaikan jika konsolidasi yang diselenggarakan tersebut merupakan perlawan cerdas terhadap upaya kriminalisasi ulama dan aktivis.

Baca Juga: Yusril Menduga Pilpres 2019 Hanya Diikuti Satu Paslon Saja

Ia berpendapat jika konsolidasi merupakan bentuk perlawanan terhadap kezaliman, kebatilan dan kemunkaran yang dianggap memang harus beragam. Menurut Rizieq, ini jadi bentuk yang sangat efektif dan produktif, dengan menyerap pendapat ahli dan pakar. Seperti diketahui jika Yusril Izha Mahendra juga hadir dalam diskusi tersebut.

“Merupakan salah satu perlawanan cerdas. Jadi bentuk Kebatilan dan kemunkaran yang sangat efektif dan produktif. Agar masyakarat tidak mudah terjebak dan rekayasa penyesatan opini. Dan kebohongan dan karena itu segenap panitia penyelenggara. Dan segenap para peserta mudah-mudahan akan menjadi penyebab turunnya Rahmat dan barakah. Terima kasih kepada Prof Yusril dan memberikan kontribusi yang sangat produktif dan aspirasi,” kata Rizieq.

Habib Rizieq juga menegaskan kembali jika dirinya ke Arab Saudi bukan bermaksud melarikan diri, akan tetapi sebagai bentuk perlawanan. “”Ketidakhadiran saya di Indonesia, perginya saya ke luar negeri ke Tanah Suci, bukan bentuk pelarian dari tanggungjawab hukum, akan tetapi merupakan bentuk perlawanan terhadap kezaliman, kebatilan dan diselewengkannya hukum penegak hukum,” kata Rizieq

Ia menyatakan jika perlawanan tersebut dilakukan setelah upaya musyawarah dengan pemerintah selalu kandas.

“Maka, tidak ada kata lain yang harus dilakukan kecuali lawan, sekarang pilihannya ada di tangan pemerintah, mau rekonsiliasi atau revolusi,” ujar Rizieq.

Komentar

komentar