Setelah Beri Vonis Penjara 2 Tahun, Begini Nasib Majelis Hakim Sidang Ahok


SURATKABAR.ID – Kabar mengejutkan datang dari Mahkamah Agung (MA). Pasalnya, setelah memberikan vonis pidana penjara dua tahun terhadap Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), ketua majelis hakim Dwiarso Budi Santiarto dipromosikan menjadi hakim tinggi.

Dwiarso akan menjadi hakim tinggi di Pengadilan Tinggi Denpasar, Bali. Tak hanya Dwiarso, anggota majelis sidang Ahok lainnya juga ikut dipromosikan.

Dilansir detik.com dari website resmi Mahkamah Agung, Kamis (11/5/2017), Dwiarso dipromosikan lewat rapat Tim Promosi dan Mutasi (TPM) Mahkamah Agung pada Rabu (10/5/2017).

Sementara itu, posisi Dwiarso sebagai Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Utara akan digantikan oleh Cakra Alam yang saat ini menjabat sebagai Ketua Pengadilan Negeri Makassar.

Baca juga: Inilah 14 Nama yang Boleh Jenguk Ahok, Kenapa Djarot Tak Masuk Daftar?

Anggota majelis Ahok, Jupriyadi, dipromosikan menjadi Ketua Pengadilan Negeri Bandung. Sedangkan Abdul Rosyad dipromosikan menjadi hakim tinggi di Pengadilan Tinggi Palu.

Tak hanya tiga nama tersebut, juru bicara Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Hasoloan Sianturi, juga ikut dipromsikan menjadi hakim tinggi di Pengadilan Tinggi Jambi.

Seperti yang diketahui, kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok, ditangani oleh seorang hakim ketua Dwiarso Budi Santiarto, dan empat hakim anggota.

Keempat hakim anggota ini adalah Jupriyadi, Abdul Rosyad, Joseph V Rahantoknam, dan I Wayan Wirjana. Namun, di tengah persidangan, Joseph meninggal dunia sehingga digantikan oleh Didik Wuryanto.

Terkait promosi terhadap Dwiarso dan sejumlah anggota majelis sidang Ahok, MA menepis adanya unsur kesengajaan. Pasalnya, sebelum diumumkan, telah digelar seleksi promosi yang dilakukan 3 bulan sebelumnya.

“Seleksinya 3 bulan hingga 4 bulan. Tidak dalam waktu satu atau dua hari,” terang Kepala Biro Hukum dan Humas MA, Ridwan Masyur, Kamis (11/5/2017) dilansir detik.com.

Selama menjalani proses seleksi, terdapat serangkaian kegiatan yang harus dilakukan. Mulai dari penelusuran rekam jejak, wawancara, ujian tertulis dan masukan dari Badan Pengawas (Bawas) yang merupakan lembaga intern MA.

Baca juga: Mengejutkan! Ternyata Ini Alasan Ahok Bangun Masjid di Balai Kota

Untuk itu, Ridwan meminta agar masyarakat tak berspekulasi atas promosi anggota majelis hakim Ahok. “Banyak yang diseleksi dan banyak yang tidak lulus ujian calon pimpinan,” tegas Ridwan.