Tahukah Kamu Jika Lendis Katak Cukup Ampuh Lawan Flu? Bagaimana Bisa?


© messersmith.name

SURATKABAR.ID – Mungkin selama ini banyak orang yang masih merasa jijik dengan katak karena menurut mereka tubuh yang sedikit slimy dan tekstur aneh yang ada di hewan tersebut membuat mereka tidak ingin menemuinya apalagi sampai bersentuhan atau memegangnya.

Namun tahukah Anda jika ternyata menurut penelitian lendiri katak tersebut mampu mengatasi segala jenis gejala flu? Ya, menurut para ilmuwan di Emory University, lendir katak memang memiliki senyawa khusus yang dapat menjaga kesehatan manusia.

Untuk mendukung hipotesanya, para peneliti melakukan serangkaian penelitian yang mana mereka menemukan adanya peptida yang diekskresikan oleh katak. Peptida tersebut mampu menjadi vaksin darurat yang mampu melawan strain flu pada manusia.

Peptida adalah salah satu protein mini yang terdiri dari gugusan rantai pendek asam amino dan dapat membantu berbagai fungsi di dalam tubuh yang salah satunya sebagai antibodi untuk menjaga sistem imun atau kekebalan tubuh guna bertahan dari serangan berbagai antigen, karena beberapa peptida bersifat antimikroba.

“Setiap jenis katak memproduksi peptida yang berbeda, tergantung di mana habitat mereka berada. Kami membuat sebuah mediator kekebalan tubuh alami yang diproduksi organisme hidup dan kami menemukan bahwa lendir katak efektif melawan gejala influenza tipe H1,” ungkap Joshy Jacob, penulis penelitian ini, seperti yang dikutip dari NewAtlas.com (19/4/2017).

Para peneliti tersebut mengumpulkan 32 spesimen peptida dari spesies katak Hydrophylax bahuvistara yang berasal dari India bagian selatan. Para peneliti memberi kejutan listrik ringan pada katak lalu menggosokkan bedak di punggung mereka dan secara otomatis hewan tersebut menghasilkan peptida melalui lendir yang keluar dari mulutnya. Hasilnya, dari 32 jenis spesimen yang dikumpulkan ada empat spesimen yang terbukti efektif menjadi vaksin alami. Angka tersebut jauh lebih tinggi dari perkiraan para peneliti sebelumnya.

Para peneliti menjelaskan bahwa harus dilakukan penelitian lanjutan yang lebih banyak untuk menguji keefektifan dan pembandingan terhadap hewan lain yang juga memiliki kandungan peptida.

Pengujian dilakukan kepada tikus terlebih dahulu sebelum diaplikasikan ke manusia. Selain itu tidak semua katak bisa dijadikan obat, hanya katak yang terbebas dari penyakit dan tidak mengandung mikroba yang berbahaya.