Revolusi ‘Singo Edan’ Diantara Perubahan Visi dan Neraca Keuangan


SURATKABAR.ID Arema musim ini benar- benar seperti terlahir kembali. Punya nama baru (Arema FC) logo baru, jajaran pelatih gress, bahkan yang paling mengejutkan mereka punya tim baru, yang jelas berbeda dengan musim –musim sebelumnya.


Musim ini Arema sudah tak lagi berlabel tim penuh bintang seperti beberapa musim terakhir. Di bawah besutan Pelatih Aji Santoso Arema berevolusi menjadi tim yang penuh dengan pemain muda. Bahkan ketika regulasi Liga1 mensyaratkan minimal ada 3 pemain U-22 yang bisa jadi starter, Singo Edan kini malah tercatat memiliki 10 pemain berusia 22 tahun ke bawah. Belum lagi beberapa pemain yang berusia 23 tahun.

Namun sebenarnya apakah alasan dari tim asal Kota Malang ini melakukan revolusi ekstrem di tubuh mereka? Berkaca dari pernyataan Manajer Umum Arema FC Ruddy Widodo, Arema di Liga yang baru ini akan lebih memfokuskan diri pada pembinaan. Mereka tak mau lagi jadi tim yang ‘hanya’ bisa beli pemain, namun mereka ingin jadi tim yang sehat, dengan ‘memproduksi’ pemain, bahkan bisa menjual para pemain tersebut suatu saat nanti.

“Kami memang ingin berubah di era sepak bola baru Indonesia ini. Kami akan intens melakukan pembinaan secara internal, serta mengembalikan gaya bermain Arema ke gaya khas ‘Malangan’ yang konon akhir- akhir ini sudah hilang,” kata Ruddy beberapa waktu yang lalu kepada Surat Kabar.

Tapi, jika melihat bagaimana tim dengan ciri khas kostum biru ini banyak kehilangan bintang mereka musim ini, seperti Hamka Hamzah, Raphael Maitimo dan Faizal Shayesteh misalnya, bisa jadi alasan ‘penyeimbangan keuangan’  juga menjadi landasan keputusan anti mainstream Arema ini.

Baca juga:  Inilah 4 Pemain Kelas Dunia yang Bisa Jadi Akan Berkostum Arema FC Musim Ini

Hingga tulisan ini dibuat memang Arema tampak belum mendapatkan sponsor besar. Tercatat yang terbaru hanya ada salah satu perusahaan IT yang diyakini nilai nya juga tidak terlalu siginifikan. Selanjutnya, masalah dana ini tampaknya juga mendapat pengaruh besar dari lepasnya CEO mereka selama ini, Iwan Budianto yang saat ini memilih untuk konsentrasi sebagai Wakil Ketua Umum PSSI.

Begitu pula dengan tren Marquee Player, ketika tim –tim besar lainnya sudah dapat (Persib, Madura United), atau intens berburu, Singo Edan malah masih adem ayem dan terus melontarkan teka –teki soal pemain dengan status mega bintang tersebut.

Apakah memang benar begitu? Tentu hanya Arema dan Tuhan yang bisa menjawabnya. Atau minimal kita bisa menantikan saat tim ini di launching secara resmi, yang juga entah kapan waktu nya. Yang bisa dipastikan adalah, Arema FC di era ‘young boys’ ini akan sangat menarik untuk dinantikan permainannya. Termasuk juga laga klasik mereka melawan Persib Bandung sebagai laga pembuka Liga-1 pada 15 April mendatang di Bandung.

Akankah ‘Singa –Singa Muda’ Arema akan mampu menunjukkan jati diri mereka secara konsisten di kompetisi tertinggi sepak bola Tanah Air? Mari kita simak bersama.

Komentar

komentar