Miris! Pasca Jadi Saksi Untuk Ahok, Kiai Ini Sekarang Bernasib Begini


SURATKABAR.ID KH. Ahmad Ishomuddin mengaku mendapatkan teror dan intimidasi usai bersaksi sebagai ahli agama di persidangan kasus penodaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama, Selasa (21/3/2017) lalu.

Dalam keterangan di sidang, Kiai Ishom memyatakan Ahok tidak mempunyai niatan menista agama.

Ishom mengatakan banyak bentuk intimidasi yang dia dapatkan sejak itu. Teror itu dia dapatkan melalui telepon dan Whatsapp. Selain itu, di media sosial, Ishom juga mengaku mendapat bully yang dia anggap tidak pantas.

“Bentuk ancamannya macam-macam. Ada telepon, WA, yang mengatakan saya murtad, halal darahnya, minta bertobat, mengumpulkan uang receh, seolah-olah saya menjual aqidah saya dan tekanan-tekanan yang sifatnya sangat tidak perlu,” ujarnya sat diskusi di Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (06/04/2017), seperti dikutip dari Kriminalitas.

Meski mendapatkan intimidasi tersebut, Rais Syuriah ,PBNU Jakarta ini enggan untuk menanggapinya dan melaporkan ke polisi. Ishom menilai intimidasi-intimidasi yang dia dapatkan sebagai perbuatan bodoh yang tidak perlu ditanggapi.

“Saya tidak perlu melayani orang itu. Habis umur saya. Jadi ikut bodoh kalau kita melayani,” imbuh Ishom.

Mantan Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI ini menyesalkan dengan reaksi dari beberapa pihak atas keterangannya dalam sidang. Ia menganggap, hal itu merupakan bentuk ketidakmatangan demokrasi di Indoensia. Pihak tersebut, dikatakan Ishom tidak siap menerima perbedaan dan ingin memaksaan pendapat yang dianggap benar.

“Mereka tidak siap untuk berbeda, ingin menyeragamkan semua pendapat. Tapi tidak pada tempatnya menyerang kehormatan orang lain hanya karena berbeda pendapat,” pungkasnya.

Sebelumnya, seperti dikutip dari Kumparan, Wakil Rais Aam PBNUKH Miftahul Akhyar menyampaikan sanksi akan diberikan kepada Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomudin. Sanksi ini karena kesaksian Ishomudin yang dinilai meringankan Ahok.

Baca juga: Selepas Jadi Saksi Meringankan Untuk Ahok KH Ishomudin Dipecat MUI

Dalam kesaksian di persidangan Ahok pada Selasa (21/03/2017), Ishomudin menyebut kalau Ahok tidak bermaksud menista agama dan fatwa MUI menambah ramai persoalan ini. Ishomudin dalam kesaksiannya mengaku mewakili secara pribadi.

“Semua pengurus PBNU sudah faham dan tahu aturan/Tatib dalam menyampaikan pandangan hukum. Kalau NU sebesar ini pengurusnya semaunya sendiri dengan dalih “tidak boleh ada diskriminasi”, maka akan rusaklah sebuah organisasi dan sangat memalukan,” kata Miftahul dalam keterangannya Kamis (23/03/2017).

Menurut Miftahul, saat dilantik/baiat sebagai pengurus, di sana disebutkan bahwa antara pribadi dan pengurus adalah satu kesatuan.

“Baiat Pengurus Nahdlatul Ulama yang menggunakan kalimat syahadatain dan atau kutipan-kutipan ayat Al-Qur’an berdampak mengikat para pengurus. Dengan berbaiat, berarti pengurus telah berjanji untuk melaksanakan amanah organisasi,” tegas Miftahul.