Sejarah Islam di Jepang Pada tahun 1900 – 1920


sejarah-islam-di-jepang-pada-tahun-1900-1920-cover


SURATKABAR.IDPada tahun 1902, seorang utusan Sultan Abdul Hamid yang bernama Muhammad Ali berkunjung ke Jepang dengan maksud untuk membangun tempat peribadahan umat Islam berupa masjid di Yokohama. Namun, usaha tersebut gagal.

Selanjutnya, sekitar tahun (1904-1905), seorang jenderal Turki Pertav Pasha yang juga merupakan utusan dari Sultan Abdul Hamid juga mengunjungi Jepang guna memantau perang Rusia dan Jepang.

Dia tinggal selama kurang lebih dua tahun. Saat menghabiskan masa dua tahun di Jepang, jenderal Pertav Pasha berkesempatan bertemu dengan Kaisar Ottoman dan berhasil menuliskan tiga jilid buku yang ditulis dalam bahasa Turki.

Pasca Perang Rusia – Jepang

Setelah masa perang Rusia dan Jepang usai, berita menyebutkan jika Jepang mulai memiliki ketertarikan dengan Islam ataupun peradaban muslim. Abbas Mahmodu Al Aqqad yang merupakan seorang cendekiawan dari Mesir yang cukup terkemuka menyebutkan jika beberapa perwira dari Mesir merasa sangat terkesan dengan kemenangan Jepang atas Rusia.

Dan untuk itulah mereka menawarkan diri untuk melayani tentara Jepang dan kemudian menikah dengan seorang wanita keturunan Jepang dan memiliki anak. Selanjutnya, beberapa dari mereka pulang dan sisanya tinggal di Jepang.

Qari’  Sarfaraz Hussein yang merupakan salah ulama terkenal dari India ternyata juga mengunjungi Jepang pada akhir 1905 dan pada awal tahun 1906. Dan dalam kesempatan tersebut, beliau berkesempatan memberikan ceramah tentang Islam di Nagasaki dan juga Tokyo. Masjid pertama yang didirikan di Jepang untuk para tahanan muslim Rusia dibangun pada tahun 1905.

Ali Ahmad Al Jarjawi

sejarah-islam-di-jepang-pada-tahun-1900-1920-a

Berita di dunia muslim juga mengumumkan jika pada tahun 1905 akan diadakan suatu perbandingan antara berbagai agama untuk memilih yang paling benar, acara tersebut digelar di Tokyo. Berita tersebut turut membuat para muslim antusias untuk berkunjug ke Jepang dan menghadiri konferensi.

Seorang pengacara Syariah dari Mesir dan juga lulusan Universitas Al Azhar, Ali Ahmad Al Jarjawi mengaku jika dirinya telah menghadiri konferensi dan menulis sebuah buku dengan judul The Japanese Journey (Perjalanan ke Jepang).

Bersama dengan seorang keturunan China-Sulaiman, Rusia-Muklis Mahmoud, India-Hussein Abdul Munim, Al Jarjawi membentuk masyarakat di Tokyo dan telah berhasil mengislamkan sebanyak 12.000 penduduknya.

Abdur Rasheed Ibrahim

sejarah-islam-di-jepang-pada-tahun-1900-1920-b

Setela dua atu tiga tahun berlalu, seorang musafir muslim bersama Abdur Rasheed Ibrahim datang ke Jepang pada tahun 1909 menolak apa yang diungkapkan oleh Al Jarjawi. Tidak hanya Abdur Rasheed Ibrahim saja yang menolaknya, seorang cendekiawan dari India yang bernama Muhammad Barakatullah yang tinggal selama lima tahun di Jepang (1909-1914) juga membantahnya.

Bahkan sampai saat ini masih banyak para penulis yang mencari bukti kebenaran atas apa yang diugkapkan oleh Al Jarjawi.

Abdur Rasheed Ibrahim datang ke Jepang pada tahun 1909 dan tinggal selama kurang lebih 6 bulan. Selama masa tinggalnya tersebut, dia berjumpa dengan para penduduk Jepang dari menteri sampai orang biasa. Dan hasil dari kegiatan keagamaan yang dilakukannya, banyak mahasiswa, pekerja kantoran, dan juga jurnalis yang tertarik denga dunia Islam.

Tidak hanya mengunjungi Jepang saja, Abdur Rasheed juga datang ke China, Korea, Saudi Arabia, India, dan menulis sebah buku dengan ribuan halaman dengan bahasa Utsmaniyah, yang saat ini sudah direvisi menggunakan bahasa Arab.

Faktanya, Abdur Rasheed Ibrahim merupakan seorang musafir yang juga politikus dan sastrawan yang sangat menonjol. Almarhum Dr. Abdul Wahhab Azzam dari Mesir menyebutkan jika buku katangan Abdur Rasheed Ibrahim jauh lebih bagus dibandingkan dengan buku Bin Battutah.

Sementara, Muhammad Barakatulla yang berasal dari Bhopal India yang juga mengunjungi Jepang merupakan orang pertama yang mengajar bahasa Urdu di Universitas Bahasa Asing di Tokyo. Selama tiga tahun berturut-turut (1910-1912), ia juga mengeluarkan majalah Islam dengan judul Islam Faternity yang berhasil mengislamkan sejumlah besar penduduk Jepang.

Ahmad Fadli seorang perwira Mesir yang tinggal dan menikah di Jepang bertemu dengan Abdur Rasheed Ibrahim dan bekerja sama dengannya. Dia juga bertemu dengan Barakatullah dan bekerja sama selama enam bulan untuk majalah tersebut.

Hasan Uho Hatano merupakan salah satu pemeluk islam yang diberi hidayah melalui Barakatullah menerbitkan majalah digambarkan bernama Islamic Brotherhood pada tahun 1918. Selain itu, ia juga menerbitkan majalah lain di Jepang dan Inggris pada tahu 1912.

Muslim Jepang yang menunaikan ibadah haji pertama ali adalah Omar Yamaoka pada tahun 1909 yang ditemani oleh Abdur Rasheed Ibrahim ke Makkah dan kemudian ke Istanbul.

Sebuah majalah Pransic, Le Monde Musulman, juga mempublikasikan beberapa berita mengenai dua orang Jepang yang tinggal di China sebagai pemeluk islam. Dan mereka kembali ke Jepang dan bertekad untuk menyebarkan Islam di negara asal mereka.


BAGIKAN

Berita sebelumyaLatihan TNI dan FPI Menyalahi Prosedur, Dandim Lebak Dicopot
Berita berikutnyaMuncul Edaran Habib Rizieq Dijadikan Imam Umat Islam, Ponpes NU Ini Menolak

Komentar

komentar


Terbaru

Fahri Hamzah Ngantor Di DPR Pakai ‘Seragam’ Gerindra, Ternyata Begini Respon Fadli Zon

SURATKABAR.ID - Entah jadi sinyal atau sekedar kebetulan, tapi Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah disebut sudah seperti kader Partai Gerindra.Fahri sendiri saat ini...

Politikus PDIP Kompak Menolak, Kenapa Jokowi Malah Dukung Nobar Film G30S/PKI?

SURATKABAR.ID - Instruksi Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo untuk melakukan nonton bareng atau pemutaran film Pengkhianatan G30S/PKI memang meimbulkan polemik. Meski begitu, Presiden Joko Widodo...

Panglima TNI Sebut Akan ada 5 Ribu Senjata Masuk Secara Ilegal, Anggota DPR Singgung...

SURATKABAR.ID - Pernyataan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengenai masuknya 5 ribu senjata ilegal ditanggapi serius oleh sejumlah pihak. Diantaranya adalah Wakil Ketua Umum...

Pemutaran Film G30S/PKI Bisa Jadi Pisau Bermata Dua untuk Gatot Nurmantyo

SURATKABAR.ID – Yunarto Wijaya, Direktur Eksekutif Charta Politika menyebutkan jika instruksi pemutaran film penumpasan Pengkianatan G30S/PKI merupakan pisau bermata dua bagi popularitas dan elektabilitas...

Pernah Menjabat 2 Kali Ikuti Jejak Ayahnya, Inilah Wali Kota Cilegon TB Iman Ariyadi...

SURATKABAR.ID – Operasi Tangkap Tangan (OTT) kepala daerah kembali dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Pada Sabtu (23/9/2017) dini hari tadi, Wali Kota Cilegon, Tubagus...

Soal Film G30S/PKI, Try Sutrisno Beri Pesan ke Panglima TNI

SURATKABAR.ID - Ramainya perbincangan publik mengenai polemik pemutaran film penghiatan G30S/PKI yang telah diintruksikan oleh Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mendapatkan komentar dari Mantan...

Jokowi Ingin Ada Film G30S/PKI Versi Baru, Begini Jawaban Tegas Panglima TNI

SURATKABAR.ID - Rencana nonton bareng film G30S/PKI menjadi sorotan akhir-akhir ini. Beberapa pihak memberikan dukungan, sementara yang lain menolak dengan alasan tak sesuai dengan...