Potret-potret Miris dari Lokasi Pengembangan Senjata Nuklir


SURATKABAR.ID – Kehancuran dan kerusakan mengusik lanskap sudut terpencil Stepa Kazakh. Akibat ledakan bom nuklir, danau-danau tak alami lantas terbentuk memenuhi dataran yang dulunya rata. Danau-danau tersebut diselingi juga oleh rangka demi rangka bangunan kosong dan terlantar.

Area itu tampak tak berpenghuni. Namun, mengutip NationalGeographic.Grid.ID, Sabtu (08/12/2018), hantu-hantu—entah yang hidup ataupun mati—bergentayangan di sana. Mereka masih terbebani oleh efek program pengujian nuklir yang berhenti hampir 30 tahun silam.

Situs yang dikenal sebagai Polygon tersebut pernah menjadi rumah bagi hampir seperempat uji coba nuklir selama Perang Dingin. Zona itu dipilih lantaran tak dihuni, namun beberapa desa pertanian kecil, berderet di sepanjang perimeternya.

Kendati sejumlah penduduk diungsikan selama periode uji coba, namun sebagian besar tetap bertahan. Kerusakan yang berlanjut hingga hari ini sungguh mendalam.

Fotografer Phil Hatcher-Moore menghabiskan dua bulan penuh untuk mendokumentasikan wilayah ini, dan dihadapkan pada “kerusakan sia-sia akibat dari kebodohan manusia”.

Baca juga: Tuntutan Udara Bau dari Warga Sukoharjo Malah Berujung Bui

Proyeknya yang berjudul Hantu-hantu Nuklir mengomposisikan lanskap yang tersia-siakan dan potret akrab para penduduk desa yang masih menderita akibat dampak uji coba nuklir hingga sekarang.

Angkanya sungguh menakjubkan—sekitar 100.000 orang di area itu masih terdampak radiasi, yang dapat diwariskan hingga lima generasi. Dengan gambarnya yang sangat mengerikan, Moore berusaha membuat angka abstrak itu nyata.

“Kontaminasi nuklir bukanlah sesuatu yang bisa kita lihat,” ujarnya.

“Selama ini kita bicara tentang angka-angka, tetapi saya menemukan bahwa lebih menarik untuk fokus pada individu-individu yang merangkum cerita,” demikian seperti yang diimbuhkan oleh Moore.

Sebelum memotret, Moore mewawancarai semua subjeknya dan memahami bahwa kerahasiaan dan informasi yang salah memegang peran penting dalam pengalaman buruk mereka.

“[Selama tahun 50-an] seorang pria dibekali dengan tenda dan diminta untuk tinggal di perbukitan selama lima hari bersama kelompoknya. Secara efektif, dia digunakan sebagai subjek uji coba untuk melihat apa yang akan terjadi,” ungkap Moore.

 

“Mereka tidak pernah diberi tahu apa yang sedang terjadi, begitu juga marabahaya yang mungkin mereka hadapi,” lanjut Moore menambahkan.

Walaupun kisah-kisah manusia menjadi pusat proyek ini, Moore juga mendokumentasikan uji ilmiah laboratorium yang masih mengungkapkan kerusakan tersebut. Penjajaran uji lab dengan potret-potret manusia yang cacat akibat radiasi memang membuat tampilan kurang nyaman dipandang, tapi kedekatan ini ialah kesengajaan.

“Pernah ada sejarah manusia digunakan sebagai subjek hidup,” tukas Moore.

“Saya ingin mengawinkan kedua gagasan ini; bagaimana orang-orang pernah digunakan para peneliti pada masa itu dan bagaimana hal tersebut menitis ke dalam kehidupan sehari-hari—seperti apa, dan apa maknanya,” bebernya kemudian.

Beberapa subjek Moore mengalami cacat berat, sebagian besar lainnya menderita masalah kesehatan yang tak terlihat, seperti kanker, penyakit darah, atau PTSD. Yang lebih penting, sifat tersembunyi dan berbahaya dari nuklir menjadi masalah paling utama.

“Untuk jangka waktu lama, tidak banyak perkembangan nuklir, tapi ini adalah masalah yang sangat nyata sekarang,” tegas Moore.

“Tapi kita tidak membicarakan apa yang diperlukan untuk memperbarui senjata ini. Orang-orang ini adalah warisan dan bukti atas apa yang telah dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut,” tutupnya.