Singapura Marah Besar, Malaysia Lakukan Pelanggaran Berat Ini


SURATKABAR.ID – Hubungan Singapura dan Malaysia tengah memenas. Permasalahan diawali dengan perselisihan soal batas wilayah perairan kedua negara.

Singapura merasa batas wilayahnya dilanggar oleh Malaysia dan terus berusaha menghalau Malaysia dari sekitar Pelabuhan Tuas. Namun, rupanya Malaysia bergeming dan tak peduli pada peringatan Singapura.

“Singapura adalah bangsa yang cinta damai. Tetapi, sebaiknya para pelanggar perbatasan segera meninggalkan wilayah kedaulatan kami,” tegas¬†Menteri Pertahanan Singapura Ng Eng Hen, Jumat (7/12/2018), seperti dikutip dari jpnn.com.

Ng Eng menegaskan, memasuki wilayah negara lain tanpa izin merupakan pelanggaran berat. Singapura juga tak akan tinggal diam atas perlakukan Malaysia tersebut.

Baca juga: Bisnis Sukamiskin! Suami Inneke Koesherawati Sewakan Bilik Cinta Di Lapas, Segini Tarifnya

Selama hampir dua dekade wilayah maritim tersebut berada di bawah kendali Singapura. Sejak 1999, Angkatan Laut (AL) Singapura telah berpatroli di wilayah tersebut. Bahkan, Negeri Singa ini juga menindak kapal asing yang memasuki wilayah Pelabuhan Tuas.

Namun, tiba-tiba kapal Malaysia menerobos perbatasan dan mengakui wilayah tersebut sebagai milik Negeri Jiran. “Sekarang tiba-tiba kapal Malaysia mengklaim wilayah itu milik mereka,” ujar Ng Eng.

Sebelumnya, Menteri Transportasi Khaw Boon Wan menjelaskan mengenai posisi Singapura di perbatasan laut kedua negara tersebut. Menurutnya, Pelabuhan Tuas kini punya wilayah yang lebih luas, yakni wilayah paling timur berbatasan langsung dengan area maritim Pelabuhan Johor Baru milik Malaysia.

Lebih lanjut, Khaw menuturkan bahwa sengketa batas wilayah perairan yang menjadi perbatan Malaysia dan Singapura tersebut telah berlangsung lama.

Singapura pun telah berusha untuk menyelesaikan persengketaan tersebut secara baik-baik. Namun, Malaysia tak pernah menanggapi upaya Singapura. Terakhir kali, Singapura juga telah berbicara langsung kepada PM Mahathir Mohammad pada November lalu.

“Sewaktu PM Mahathir Mohammad berkunjung pada November lalu, kami sudah mengungkit masalah tersebut. Tetapi, sikap mereka tetap tidak berubah,” terang Khaw kepada Channel News Asia.