Faisal Basri Soal Pilpres 2019: Kiri Harimau, Kanan Buaya


SURATKABAR.ID – Pakar ekonomi senior Faisal Basri buka suara menanggapi tokoh yang menyebut swasembada zaman Orde Baru adalah hal hebat. Menurutnya, swasembada pada zaman itu menjadi penyebab negara Indonesia hampir hancur.

Faisal, seperti yang dilansir dari Tempo.co pada Kamis (22/11/2018), mengambil contoh swasembada soal minyak di era Presiden RI ke-2 Soeharto. Ia menyebut, Indonesia swasembada minyak, namun lantaran utang PT Pertamina (Persero) yang menumpuk justru membuat negara hampir runtuh.

“Swasembada orde baru bikin runtuh negara. Kita swasembada minyak, tapi bikin negara hampir runtuh, karena utang Pertamina yang jatuh tempo lebih besar dari cadangan devisa kita,” jelas Faisal Basri di Hotel Le Meridien, Jakarta pada Kamis (22/11) kemarin.

Karena itu, ia mengimbau masyarakat tak salah memahami Orde Baru. Faisal menekankan menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019, ‘gorengan’ politik semakin banyak. Tak hanya menyerang pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, isu-isu politik juga dilemparkan pada kubu Joko Widodo-Ma’ruf Amin.

“Jangan mau dimakan resep Titiek Soeharto, yang katanya, mau ditiru Prabowo dan Sandi,” ujar Faisal. “Dua-duanya (Jokowi dan Prabowo) saya kritik. Makanya saya mendengar Bapak Ibu jadi susah milik. Dua-duanya sama. Kiri harimau, kanan buaya,” imbuhnya.

Baca Juga: Mardani Usul Gaji Guru Naik Jadi Rp 20 Juta, Prabowo Malah Beri Respons Tak Terduga

Seperti yang diberitakan sebelumnya, Tutut Soeharto menilai era orde baru terjadi swasembada beras karena kerja keras selurh rakyat Indonesia. Hal tersebut diungkapkan Tutut melalui akun media sosial Twitter miliknya.

Alhamdulillah, pada Orde Baru, atas kerja keras segenap rakyat Indonesia, kita berhasil swasembada beras,” demikian bunyi cuitannya di akun @TututSoeharto49, yang diunggah pada Kamis (15/11) malam.

Pernyataan Tutut Soeharto tersebut dilontarkan tak berselang lama setelah Titiek Soeharto menyuarakan kritikan terhadap Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla. Titiek menilai, Jokowi dan JK telah gagal memenuhi janji kampanye pada pilpres sebelumnya.

Titiek menyebutkan, pada saat Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 lalu, Jokowi menjanjikan akan swasembada padi, jagung, dan kedelai hanya dalam waktu tiga tahun era pemerintahannya. Namun pada kenyataannya, hingga saat ini Indonesia malah impor beras.