Prabowo: Saya Harusnya Istirahat, Tapi Saya Tidak Rela Rakyat Masih Miskin


SURATKABAR.ID – Prabowo Subianto sebagai calon presiden  nomor urut 02 melontarkan pernyataan bahwa seharusnya ia sudah beristirahat dari panggung politik nasional. Akan tetapi, ia mengaku tak rela jika harus rehat lantaran kondisi perekonomian rakyat Indonesia yang menurutnya saat ini masih miskin.

“Saya sih harusnya istirahat, tapi saya tidak rela lihat rakyat saya masih miskin. Untuk apa saya berjuang sekian puluh tahun, kalau rakyat saya sekarang masih miskin, tidak punya apa-apa,” tandas Prabowo di Bogor, Senin (22/10/2018). Demikian melansir CNNIndonesia.com, Selasa (23/10/2018).

Ketum Partai Gerindra tersebut menyadari, di umurnya yang kini menginjak 67 tahun tentu sudah tak bisa dibilang muda. Ia terang-terangan mengatakan betapa fisiknya juga sudah tak sekuat dulu waktu masih aktif sebagai tentara. Bahkan, sembari berkelakar, Mantan Danjen Kopassus itu mengaku pegal jika harus duduk bersila selama berjam-jam.

“Saya ini diajak duduk bersila berjam-jam, pegel juga nih bib. Pegel. Jadi kalau tadi ada yang lihat, sekali-kali kaki saya ke depan, maklum sudah mantan prajurit,” sebutnya.

Kendati begitu, Prabowo menyatakan ingin membawa perubahan bagi bangsa dan negara Indonesia. Di sisi lain, sambung Prabowo, ketidakadilan yang masih dialami rakyat membuat dirinya ingin tetap berjuang.

Baca juga: Swing Voters Jadi Tantangan Terbesar Paslon Pilpres 2019, Angka Golput Naik?

“Saya mengabdikan diri, menyiapkan diri, menawarkan diri untuk jadi alat bagi rakyat dan umat di republik ini,” tandasnya.

Mampu Membawa Perubahan

Diakui oleh mantan jenderal bintang tiga tersebut, dirinya mampu membawa perubahan bagi Indonesia jika terpilih jadi kepala negara dalam Pilpres 2019. Bersama timnya, ia meyakini dapat menjaga kekayaan alam Indonesia agar tak lari keluar negara.

Prabowo yang berpasangan dengan Sandiaga Salahuddin Uno tersebut menegaskan, Indonesia adalah negara kaya dengan sumber daya alam yang berlimpah. Seluruh kekayaan alam ini merupakan hak seluruh rakyat Indonesia yang bila tak bisa dikelola dengan baik, tak akan mampu mewujudkan kesejahteraan.

“Kami yakin, kami mampu didukung rakyat semua, kami mampu untuk mengamankan, untuk menghentikan kekayaan negara Indonesia tidak mengalir ke luar Indonesia lagi. Itu perjuangan kami,” tegasnya.

Angka Kemiskinan Menurun dalam 4 Tahun Jokowi-JK

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, tingkat kemiskinan Indonesia terus mencatatkan penurunan. Per Maret 2018, tingkat kemiskinan tercatat  di kisaran 9,82 persen dari total penduduk, atau sekitar 25,95 juta jiwa pada Maret 2018 di masa pemerintahan Jokowi-JK.

Padahal, mengutip laporan Liputan6.com, pada Maret 2015 angka kemiskinan masih 28,59 juta jiwa atau 11,22 persen. Tak hanya itu, angka pengangguran juga merosot. Pada Maret 2018 angka pengangguran sebesar 6,87 juta jiwa atau 5,13 persen. Dibandingkan pada Maret 2015, saat itu masih 6,18 persen atau 7,4 juta jiwa.

“Kita bersyukur apa yang kita kerjakan membuahkan hasil, kualitas kehidupan manusia dalam empat tahun terakhir terus membaik,” demikian ucapan Presiden RI Joko Widodo dalam Pidato Sidang Tahunan 2018, seperti ditulis Sabtu (20/10/2018).

Sementara itu, mengenai angka ketimpangan (gini ratio), pada Maret 2018 tercatat hanya 0,389. Sedangkan pada Maret 2015, angka gini ratio masih 0,408.

Hal ini tidak terlepas dari pemerataan pembangunan yang dilakukan selama ini. Hasilnya, meski tipis, ekonomi Indonesia terus tumbuh di tengah gejolak sentimen global. Pada 2015 lalu, pertumbuhan ekonomi RI 4,88 persen, pada 2016 ialah 5,03 persen, di 2017 sebesar 5,07 persen dan terakhir hingga semester 1 2018 pertumbuhan ekonomi RI yaitu 5,17 persen.

“Sebagai negara besar dengan rentang geografis yang sangat luas, dengan 260 juta jiwa penduduk dan 714 suku, kita harus memastikan negara bekerja nyata mengurus dan melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia,” tandas Jokowi.

Di samping itu, pada Februari 2018, tingkat pengangguran juga turun mencapai 5,13 persen dari posisi 2017 sebesar 5,5 persen. Tingkat pengangguran terus menurun seiring dengan terbukanya kesempatan kerja.

Apa Program Pembaruan Ekonomi Prabowo-Sandiaga?

Terkait program pembaruan ekonomi dari paslon Prabowo-Sandiaga, Juru Bicara Andre Rosiade menyebutkan, pasangan nomor urut 02 ini akan menggaungkan program-program strategis dalam masa kampanye.

Isu-isu tersebut termasuk menumbuhkan pertumbuhan ekonomi dan membuka lapangan pekerjaan. Lalu, sebagaimana dilansir laporan TribunNews.com, mereka juga ingin memastikan harga-harga kebutuhan pokok terjaga serta tak lupa juga, pemberantasan korupsi.

Namun Andre mengatakan bahwa detail bagaimana cara mengimplementasikan program-program yang ditawarkan tersebut akan disampaikan langsung oleh Prabowo-Sandiaga dalam debat capres-cawapres mendatang.

“Mengapa kita tim sukses belum membicarakan secara detail, karena kita ingin adu gagasan, adu debat, adu program yang menyeluruh dan detail itu Pak Prabowo akan menyampaikan saat debat,” papar Andre melalui sambungan telepon kepada pers Kompas.com, Minggu (14/10/2018) malam.

Andre menambahkan, capres dan cawapres akan langsung menyampaikan sendiri program secara lebih konkret kepada masyarakat.

Menurutnya, dalam debat terbuka akan terjadi adu gagasan di antara para kontestan, sehingga publik bisa melihat secara langsung dan menilai siapa kandidat yang layak untuk memimpin bangsa Indonesia.

“Nanti saat debat terbuka masyarakat bisa menilai Pak Prabowo atau Pak Jokowi yang lebih mampu memimpin negara ini,” tukas Andre.

“Pak Prabowo dan Pak Jokowi berdebat masyarakat bisa melihat program-program konkret ya seperti apa, detailnya seperti apa sehingga masyarakat tidak beli kucing dalam karung,” imbuhnya kemudian.

Poling #Pilpres2019 SuratKabar.id
Jika Pilpres 2019 dilaksanakan hari ini, pasangan mana yang akan anda pilih?
Klik 'Vote!' untuk melihat hasil polling sementara.