Bukannya Jadi Cantik, Wanita Ini Malah Alami Hal Tragis Saat Operasi!


SURATKABAR.ID – Bedah kosmetik kerap menjanjikan keajaiban perubahan penampilan diri seseorang. Namun dibalik perubahan kecantikan yang ditawarkannya, ada pula cerita horor diluar sana mengenai bedah plastik oleh para ahli bedah licik. Potongan harga atau harga murah malah dijadikan alasan untuk hasil yang tidak sesuai harapan pasien. Salah satunya seperti kisah berikut.

Mengutip laman Brilio.net, Senin (22/10/2018), Salah satu kasus nahas dan tragis ini dialami oleh wanita berusia 29 tahun, Leah Cambridge dari Inggris. Leah Cambridge meninggal di meja bedah kecantikan Elite Aftercare di Izmir, Turki. Ibu dari tiga anak ini melakukan operasi permak pantat Brazillian (lemak diambil dari pinggang dan disuntikkan ke pantat). Namun, pasien tersebut meninggal usai lemaknya memasuki peredaran darah.

Tak hanya Leah, seorang perempuan lain mengalami efek samping dari hasil operasi murahan di klinik kecantikan yang tak resmi tersebut. Perempuan itu mengalami kelainan pada mata sebelah kirinya yang kemudian besar sebelah. Efek samping ini terjadi setelah sebelumnya ia melakukan operasi untuk kantung mata.

Berikutnya ialah Laura Franks dari Atlanta, Georgia. Ia berbagi pengalaman buruknya saat melakukan operasi plastik. Dia berharap orang lain tidak perlu mengalami hal serupa dengan dirinya. Ibu dua anak itu pergi ke Kolumbia untuk melakukan perubahan pada fisiknya, di bulan Februari. Dia melakukan sedot lemak dan permak pantat dengan biaya yang tak murah, yakni $500 atau sekitar Rp 5 juta.

Saya yakin, saya akan pulang dengan kantong mayat,” tukasnya pada Kamis (18/10/2018). dilansir dari socialnewsdaily.com.

Baca juga: Ngeri! Ilmuwan Ini Koleksi Mayat Orang Untuk Dipamerkan

Ketika Laura memutuskan untuk melakukan operasi, menurutnya ini merupakan satu-satunya cara agar kepercayaan dirinya kembali. Laura menghabiskan waktu satu tahun untuk melakukan riset secara menyeluruh atas pilihannya tersebut. Ia mencari tahu testimoni setiap pasien melalui online.

Namun saat Laura telah menemukan pilihan dan mendatangi tempat itu, kekhawatiran Laura meningkat.

“Saya melihat ke sekeliling, ada hal-hal yang tidak beres, ada kursi teras plastik di kamar dan barang-barang pribadi staff seperti tas dan sebagainya,” terang Laura yang mencoba menggambarkan tempat tersebut.

Tak hanya itu, kekhawatiran Laura juga dirasakan saat ia akan memulai operasinya, suntikan jarum terasa sangat menyiksanya. Banyak yang bertanya kepada Laura, mengapa diam saja, dan tidak melawan? Laura sendiri bingung dengan kondisi seperti itu. Pasalnya, semua terjadi terlalu cepat dan membingungkan.

Laura pun menuturkan, meski merasa cemas, namun operasi berjalan dengan lancar. Pemulihan Laura tampak berjalan dengan lancar. Namun saat perban dibuka, lima hari kemudian timbul bercak merah di perutnya.

Staf klinik mengungkapkan, Laura hanya butuh udara segar atau oksigen. Laura akhirnya melakukan tahap tersebut, di mana ia menghirup 100% oksigen, dengan harapan mempercepat kesembuhan. Namun kesehatan Laura kian hari kian memburuk. Laura pun dilarikan ke rumah sakit lain.

Daging Membusuk

Di rumah sakit yang baru, Laura menjalani operasi ulang untuk menghilangkan daging yang membusuk dan menghentikan infeksi agar tidak menyebar. Sebulan kemudian Laura diberi izin pulang ke Amerika Serikat, dengan catatan dia harus pindah ke rumah sakit lain.

Untungnya, keluarga Laura menemukan tim ahli bedah untuk perawatannya, di Denver, Colorado, yang mencangkokkan kulit dari kakinya ke perut.

Dalam kasus Laura, dokter menemukan tiga jenis bakteri, yang ia dapatkan selama tinggal di Kolumbia. Dua jenis bakteri yang ditemukan pada tubuh Laura merupakan jenis bakteri yang belum pernah di temukan di AS sebelumnya. Dokter menuturkan, bakteri tersebut berasal dari peralatan yang terkontaminasi. Ini berarti peralatan yang digunakan tidak steril.

Dokter bahkan sempat menyebutkan bahwa peluang hidup Laura sangat kecil. Pasalnya, ternyata bakteri-bakteri tersebut tergolong ‘kuat’ dan resistan terhadap obat. Berkat bantuan ahli medis dan serta obat-obatan terbaik, beruntung akhirnya nyawa Laura terselamatkan.