Bicara Ekonomi Harus Dengan Data, Sri Mulyani Tak Ingin Mahasiswa Seperti Menulis Novel


SURATKABAR.ID – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut mahasiswa mesti berbasiskan data bila berbicara soal ekonomi.

“Kalau kita lihat mahasiswa kini memiliki luxury, data yang lebih banyak dan frekuensinya jauh lebih baik,” ujar Sri Mulyani di Aula Badan Kebijakan Fiskal, jakarta, Senin, (24/09/18) dilansir dari Tempo.co.

Sri Mulyani mengatakan kesempatan itu jauh lebih baik ketimbang saat dia berkuliah dulu. Bukan hanya soal akses terhadap data, mahasiswa zaman sekarang, kata dia, juga ditunjang oleh alat dan teknologi yang lebih mumpuni.

“Artinya, anda memiliki kans untuk menggunakan tools dan teknologi yang makin sophisticated untuk membaca big data dan melakukan analisa,” ujar Sri Mulyani.

Baca Juga: Rupiah Melemah, Sri Mulyani Blak-Blakan Soal Kondisi APBN 

Dengan begitu, Sri Mulyani berujar untuk berbicara ekonomi pun mahasiswa bisa melihat data runtutan waktu alias time series bahkan selama 73 tahun semenjak Indonesia merdeka. Ia menegaskan, berbicara ekonomi berbeda dengan berpuisi, berprosa, atau menulis novel. “Berbicara ekonomi harus evidence base,” kata Sri Mulyani.

Pada era sekarang, Sri Mulyani bersyukur intelektualitas mahasiswa semakin membaik. Ia berharap intelektualitas itu tidak hanya dimiliki oleh mahasiswa di universitas terbaik, namun bisa merata di semua universitas.

Selain kepada mahasiswa, Sri Mulyani juga menyebut Badan Kebijakan Fiskal yang berada di bawah kementeriannya untuk banyak melakukan banyak penelitian dan kajian dengan data-data yang ada.

“Kita bisa menggunakan instrumen fiskal kita untuk konsisten dan bertahap bisa meng-address isu ekonomi, terutama masalah struktural,” kata dia.

Lebih lanjut Sri Mulyani berpendapat, mahasiswa dan dosen dapat berinteraksi kepada pembuat kebijakan bagaimana kemudian memformulasikan kebijakan fiskal yang baik.

“Seminar ini judulnya menarik yakni A New Era of Indonesia’s Economic Triumph. Memang seperti ini, kita harus optimistis. Saya berharap ini bukan wishful thinking, melainkan sejalan dengan dukungan data dan aksi pemerintah,” ungkapnya dilansir dari liputan6.com.

“Oleh karena itu, saya meminta BKF agar dapat melakukan kajian dan review sehingga kita bisa desain APBN yang sifatnya long term supaya tahu masalah struktural ekonomi kita,” tandasnya