Rupiah Anjlok Hingga 14.908 per Dolar AS. Sektor Ini Naikkan Harga Jual


SURATKABAR.ID – Nilai tukar rupiah belakangan kembali melemah, bahkan pada siang tadi di pasar spot rupiah menembus level Rp 14.908 per dolar AS. Anjloknya kurs rupiah ini direspons oleh pengusaha tepung terigu dengan menaikkan harga jual produknya karena masih tingginya ketergantungan akan bahan baku gandum impor.

Namun Direktur Eksekutif Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (Aptindo), Ratna Sari Loppies, kalangan pabrikan tidak bisa menahan impor gandum kendati rupiah melemah dan harga gandum global mengalami kenaikan. Selain itu, stok bahan gandum di tingkat produsen tepung terigu umumnya sudah aman untuk jangka waktu 3-6 bulan ke depan.

Dari sisi pasokan, menurut Ratna, produksi tepung terigu Indonesia diperkirakan akan menembus 6,5 juta ton hingga akhir 2018. Angka itu naik dibandingkan 2017 yang sebesar 6,22 juta ton.

Lebih jauh, Ratna menyebutkan kenaikan harga jual tak berimbas pada tingkat permintaan di dalam negeri. Data yang dimilikinya menyebutkan sepanjang semester I tahun ini konsumsi terigu domestik sebesar 3,23 juta ton atau ekuivalen dengan 4,15 juta ton gandum.

Baca juga: Inilah 3 Jurus Bank Indonesia Menolong Rupiah 

“Jumlah tersebut tumbuh 5,95 persen secara tahunan,” ujar Ratna, Senin, 17 September 2018. Sementara itu, konsumsi sepanjang tahun lalu sebesar 6,22 juta ton atau setara dengan 7,98 juta ton gandum atau tumbuh 5,54 persen secara tahunan.

Ratna memperkirakan terus tumbuhnya permintaan terigu di dalam negeri meskipun harga produk dinaikkan tak lepas dari strategi kenaikan harga yang dilakukan bertahap. “Kami mengedukasi UKM kalau ada kenaikan harga dan kenaikan tersebut dilakukan secara bertahap. Kami jaga supaya tidak ada gejolak,” ucapnya.

Segmen UKM, kata Ratna, menjadi penyerap tepung terigu utama dengan kontribusi sebesar 66 persen, sisanya diserap oleh industri besar. UKM yang menggunakan tepung terigu ini merupakan perusahaan yang menggunakan sistem manajemen tradisional dan dimiliki oleh keluarga, serta berorientasi komunitas.

Beberapa jenis UKM yang banyak menyerap tepung terigu antara lain bergerak di bidang roti, biskuit, kue modern dan tradisional, mi basah, dan lainnya.

Pelemahan rupiah ini juga berimbas kepada segmen perusahaan besar. Perusahaan besar merupakan perusahaan yang menggunakan mesin berteknologi tinggi, manajemen profesional, dan beberapa di antaranya merupakan perusaan terbuka.

Perang Dagang AS-China yang menjadi penyebab anjloknya rupiah juga membuat pekerjaan rumah lain untuk pemerintah. Perang dagang yang terjadi berpotensi membuat Indonesia dibanjiri dengan produk-produk asal kedua negara tersebut. Hal ini perlu menjadi kewaspadaan di dalam negeri.

Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Kementerian Perdagangan, Iman Pambagyo mengatakan, setelah AS dan China saling menaikkan tarif untuk produk impor, keduanya akan mencari pasar baru untuk ekspor produknya. Salah satu negara yang terkena dampaknya yaitu Indonesia.

“Perang dagang ini meningkatkan persaingan pasar, karena produk yang dihasilkan China dan AS akan mencari pasar ke negara lain. Indonesia salah satunya,” ujar dia di Kantor Kemendag, Jakarta, Selasa (18/9/18) dilansir dari liputan6.com.