Inilah 3 Jurus Bank Indonesia Untuk Menolong Rupiah


SURATKABAR.ID – Bank Indonesia (BI) mengaku terus melakukan berbagai upaya untuk menjaga kestabilan nilai tukar rupiah. Penjaga moneter ini memastikan akan selalu ada di pasar untuk melakukan intervensi.

Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo mengatakan, depresiasi nilai tukar rupiah dari awal tahun sudah mencapai sekitar 8%. Menurutnya angka itu masih lebih baik dibandingkan negara-negara lain.

Hal itu menurutnya tidak lepas dari peran BI yang selalu menjaga pergerakan nilai tukar rupiah. Ada tiga hal yang menjaga nilai tukar rupiah, pertama menjaga likuiditas valuta asing di pasar dengan melakukan intervensi.

“Ini yang kita lakukan menjaga dalam rupiah. Pertanyaannya apakah rupiah harus kita jaga dalam satu level tertentu? Saya bilang tidak,” tuturnya di Grand Ballroom Kempinsky, Jakarta Pusat, Jumat (14/9/18) dilansir dari detik.com.

Baca Juga: Lembaga Pemeringkat Moody’s: Anjloknya Rupiah Bisa Berdampak Negatif Lebih Luas 

Bukti dari intervensi yang dilakukan BI bisa dilihat dari berkurangnya cadangan devisa (cadev). Hingga akhir Agustus 2018 cadev BI sudah turun jadi US$ 117 miliar. Dody memperkirakan angka itu akan kembali turun di September 2018.

Kedua, BI menjaga agar depresiasi nilai tukar rupiah berlangsung gradual. Sebab BI sadar bahwa pelemahan nilai tukar tidak bisa dilawan jika itu sudah kehendak pasar.

“Mekanisme nilai tukar kita mengambang, jadi ditetapkan pasar. Namun kita tidak menghendaki depresiasi yang over shooting jadi kita akan masuk ke pasar,” tambahnya.
Ketiga, BI melakukan penyesuaian suku bunga acuan. Setidaknya dari awal tahun suku bunga BI 7 day reverse repo rate sudah naik 125 basis poin menjadi 5,5%.

“Ketiga kombinasi itu yang kita lajukan setiap hari. Kita telah intervensi valas cukup besar dan rupiah depresiasi sekitar 8%,” tambahnya.

Menurut Dody jika BI tidak menerapkan ketiga jurus itu, maka kondisi nilai tukar bisa jauh lebih parah. Sebab normalisasi kebijakan yang dilakukan di AS membuat banyak modal asing yang keluar dari negara berkembang termasuk Indonesia.

“Jadi kombinasi itu yang kita lakukan, kalau tidak ada intervensi mungkin depresiasi bisa sekitar 10-15%,” tegasnya.