Saat Pacaran Ternyata Hanya ‘Menjaga Jodoh Orang’, Begini Kata Para Ahli Agar Kamu Bisa Terhindar


SURATKABAR.ID – Biasanya, pasangan yang sudah berpacaran dalam waktu cukup lama akan melanjutkan ke jenjang pernikahan. Namun jika jodoh berkata lain, tak sedikit pula beberapa pasangan yang sudah pacaran bertahun-tahun ujungnya malah putus. Menghadapi hubungan yang harus kandas di tengah jalan memang tak bisa dibilang mudah bagi kedua belah pihak.

Tapi, seakan itu belum cukup, sering terjadi fenomena di mana salah satu pihak yang setelah putus malah langsung menikah dengan jodohnya. Alhasil, muncullah istilah ‘menjaga jodoh orang’. Fenomena seperti ini juga terjadi pada sejumlah selebritas tanah air. Sebut saja deretan dari mereka seperti Laudya Cynthia Bella dan Chicco Jerikho yang telah berpacaran 5 tahun.

Kemudian ada Acha Septriasa dan Irwansyah, Gracia Indri dan Samuel Zylgwyn, Donna Agnesia dan Okan Cornelius, Deswita Maharani dan Taufik Hidayat, Shireen Sungkar dan Adly Fairuz, bahkan hingga Raisa Andriana dan Keenan Pearce yang putus-nyambung selama 5 tahun namun akhirnya menikah dengan jodohnya masing-masing.

Menukil laman PsychologyToday melalui Nakita.Grid.ID, Jumat (14/09/2018), ada beberapa hal yang menyebabkan pasangan kekasih akhirnya memutuskan berpisah meski sudah bertahun-tahun bersama.

1. Hilang Kepercayaan

Hilangnya kepercayaan menjadi salah satu masalah paling berbahaya dalam sebuah hubungan.

Baca juga: Tak Disangka! Ternyata Ini Rahasia Tetap Cantik dan Awet Muda Ala Rossa

Masalah kepercayaan dapat mencakup berbagai faktor seperti posesif, cemburu, kekakuan yang tak masuk akal, perselingkuhan secara emosional, perselingkuhan fisik/seksual, kurangnya kepercayaan dan kehandalan, kurangnya dukungan emosional, kurangnya kompatibilitas keuangan, dan kurangnya saling mendukung tujuan satu sama lain.

2. Beda Prinsip dan Prioritas

Realitanya, tak mudah bagi satu pasangan untuk berjalan bersama dalam waktu yang lama. Semakin lama bersama, semakin banyak pula perbedaan yang akan ditemukan dari satu sama lain. Dan ini juga termasuk perbedaan prioritas, prinsip serta tujuan.

3. Kurangnya Komunikasi

Sejumlah penelitian telah mengidentifikasi bahwa komunikasi (atau kurangnya komunikasi) merupakan salah satu alasan utama yang melandasi pasangan memilih putus.

4. Narsisme

Kelompok riset Mayo Clinic mendefinisikan gangguan kepribadian narsistik sebagai mental disorder (gangguan mental) di mana seseorang merasa dirinya lebih penting dan dikagumi orang lain.

Narsisme ini sering ditandai oleh kurangnya keintiman dalam hubungan.

Tindakan narsisme mencakup kesombongan diri, superioritas terhadap pasangan, egois, pencitraan, tak bertanggung jawab, serta menghina pasangan.

5. Ada Pelecehan dalam Hubungan

Pelecehan dalam relationship didefinisikan sebagai penganiayaan yang berulang dari seorang individu. Contoh pelecehan relasional ini mencakup verbal, emosional, fisik, dan juga pelecehan secara seksual.

Waktu Pacaran yang Ideal Menurut Pakar

Lalu sebenarnya, berapa lama waktu pacaran yang ideal menurut para pakar?

Menukil halaman verylmag, dalam studi Penn State University yang disebut Proyek PAIR, Profesor Ted L.Huston meneliti 168 pasangan pengantin baru selama 14 tahun dan memetakan kebahagiaan hubungan pasangan masing-masing.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasangan yang rata-rata berpacaran selama 25 bulan (2 tahun 30 hari) sebelum menikah memiliki pernikahan paling bahagia.

Sementara itu pasangan yang terburu-buru menikah, rata-rata hanya berpacaran 18 bulan (1,5 tahun) kebanyakan bercerai setelah usia pernikahan lebih dari 7 tahun.

Penelitian lain dari Emory University telah mensurvei lebih dari 3.000 orang di Amerika Serikat yang telah menikah.

Hasilnya adalah pacaran selama 1-2 tahun menurunkan risiko perceraian hingga 20% daripada yang masa pacarannya kurang dari satu tahun.

Pacaran hingga 3 tahun akan lebih besar mengurangi risiko perceraian dan seterusnya.

Jadi menurut riset ini, semakin lama waktu pacaran, maka akan semakin kecil juga risiko untuk bercerai setelah menikah.

1-2 Tahun Berpacaran

Meski begitu, perlu digaris bawahi bahwa lamanya waktu pacaran bukan satu-satunya penentu kelanggengan hubungan.

Hampir semua ahli merekomendasikan sat tahun sebagai waktu yang sehat untuk pacaran sebelum menikah.

“Saya menyarankan minimal satu tahun agar masing-masing pasangan memiliki pemahaman yang baik dan jelas tentang apa yang mereka cari dari pasangan,” tukas Stephen J. Betchen, DSW, penulis Magnetic Partners.

John Amodeo, MFT, penulis Dancing with Fire: A Mindful Way to Loving Relationships setuju bahwa kencan satu hingga dua tahun merupakan yang paling aman.

Kesiapan Diri adalah Kunci

Kendati begitu, para ahli juga setuju bahwa keberhasilan pernikahan lebih berkaitan dengan kesiapan diri daripada lamanya waktu pacaran.

Amodeo juga mengakui bahwa kesiapan banyak berkaitan dengan situasi unik setiap pasangan.

“Saya pikir tidak ada waktu yang tepat, karena setiap orang dan situasinya sedikit berbeda. Dan tingkat kematangan bervariasi,” tandasnya.

Sementara itu, menurut Madeleine A. Fugère, Ph.D., penulis The Social Psychology of Attraction and Romantic Relationships, aturan “dua tahun” cukup masuk akal, namun “pasangan yang berbeda memiliki keadaan yang sangat berbeda.”

Dengan demikian, memang benar bahwa setiap individu adalah unik, sehingga dua individu yang unik pun akan menghasilkan hubungan unik yang berbeda dengan yang lainnya. Dengan kata lain, setiap kasus tak bisa dibanding-bandingkan dengan yang lain. Ceritamu dalam pencarian jodoh akan berbeda dengan kisah cinta orang lain.

Tak perlu terburu-buru memutuskan berada dalam hubungan hanya karena takut dicibir secara sosial bahwa Kamu tidak laku atau apa. Alih-alih berpacaran lama dan akhirnya malah ‘menjaga jodoh orang’, lebih baik fokus pada kesiapan diri untuk menikah. Para ahli menyarankannya karena faktor ini lebih penting ketimbang menghitung lamanya waktu berpacaran sebelum menikah.