Sanggah Pernyataan Fadli, PDIP: Jokowi Jaga Rupiah Tak Seanjlok Negara Lain


SURATKABAR.ID – Karena nilai tukar Rupiah yang terus anjlok terhadap dolar Amerika Serikat belakangan ini, Wakil Ketua DPR Fadli Zon sempat menyebut bahwa Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah gagal. Sebagaimana diketahui, nilai Dollar AS terhadap Rupiah terakhir bertengger di level Rp 14.930. Merespon komentar Fadli Zon, Sekretaris Badan Pendidikan dan Pelatihan DPP PDIP Eva Kusuma Sundari menepis anggapan gagal tersebut.

Menurut Eva, hampir seluruh dunia harus menghadapi keperkasaan mata uang Negeri Paman Sam tersebut. Artinya, masalah emerging economies ini tengah dihadapi oleh negara lain juga, bukan hanya Indonesia.

“Ini masalah umum, di seluruh emerging economies di seluruh dunia. Ini akibat Fed yang naikin bunga dan direspons China yang mendepresiasi Yen. Ibaratnya gajah tarung, para pelanduk kejepit,” beber Eva, Selasa (04/09/2018). Demikian melansir laporan Detik.com.

Bandingkan dengan Turki

Eva kemudian membandingkan nilai tukar Rupiah dengan mata uang negara lain. Bagi Eva, Jokowi berhasil menjaga agar nilai tukar Rupiah tak terlalu terpuruk.

Baca juga: Rupiah Anjlok, Wapres Minta Rakyat Stop Impor Ferrari, Parfum Mahal dan Tas Hermes

“Indonesia relatif rendah depresiasi rupiahnya dibanding Turki misalnya yang hancur sehingga sekarang menjadi pasien IMF. Jadi Jokowi relatif berhasil menjaga Rupiah tidak anjlok seburuk yang lain-lain,” jelas Eva.

Jika Indonesia dibandingkan dengan kondisi krisis moneter masa lalu, Eva memandang situasi era Jokowi jauh lebih baik. Dia lalu memberi contoh rendahnya inflasi hingga cadangan devisa yang terjaga.

“Misal ekonomi masih tumbuh, inflasi rendah, cadangan devisa masih banyak, capital inflow masih ada dan seterusnya yang umumnya kebalikan dari sikon krisis 97,” imbuh anggota Komisi XI DPR tersebut.

Bangun Optimisme dan Harapan Bagi Rakyat

Eva pun menyayangkan pernyataan yang keluar dari Fadli serta pihak lain yang terus menyebut ekonomi Indonesia kian parah. Eva meminta semua yang berkomentar itu agar menyertakan data yang mendukung kebenaran faktanya.

“Sayangnya, fundamental ekonomi kita yang bagus ini bisa kegerus oleh sentimen negatif yang dicoba bangun oleh oposisi. Harusnya semua pegang data, setop komoditisasi ketakutan untuk berpolitik deh. Mari bangun optimisme dan harapan bagi rakyat, data dan fakta masih positif kok,” tegas Eva.

Sebelumnya, Wakil Ketua DPR Fadli Zon menyebut bahwa Presiden Joko Widodo telah gagal karena nilai Rupiah yang terus anjlok melemah.

“Jika Rupiah terus melemah, bisa saja ada bank yang rontok, swasta tak mampu bayar utang, default, PHK dan banyak dampak ikutan lain. Pemerintah tak kelihatan berbuat apapun, tak ada intervensi kebijakan yang jitu. Inilah kegagalannya,” tutur Fadli, Selasa (04/09/2018).

Menurutnya, kondisi saat ini merupakan situasi terburuk bagi Rupiah di era reformasi. Fadli, berpendapat bahwa Pemerintah gagal menghentikan depresiasi Rupiah terhadap dollar AS.

“Tak terlihat langkah-langkah nyata untuk mengendalikan situasi kecuali mencari alasan justifikasi akibat Turki, Argentina dan lain-lain,” imbuhnya kemudian.

Fadli menyebutkan, harusnya pemerintah sudah jauh-jauh hari mengantisipasi kejadian ini. Fadli tak ingin devisa RI terus tergerus karena intervensi.

Fadli lalu menyebutkan soal krisis moneter. Ia mengatakan, di tahun 1997-1998, krisis dimulai dengan depresiasi Rupiah, dari Rp 2.250 hingga sempat tembus di atas Rp 17.000-an.

“Di zaman Pak Harto hampir saja kita menerapkan CBS Currency Board System. Dollar ditetapkan fix terhadap Rupiah,” tukas Wakil Ketua Umum Partai Gerindra tersebut.

Diketahui, hari ini Presiden Jokowi telah mengumpulkan beberapa pejabat negara yang berhubungan langsung dengan sektor ekonomi guna membahas permasalahan ini.