Waspadai Micro-Cheating, Selingkuh Virtual yang Sedang Marak Terjadi


SURATKABAR.ID – Era digital seperti zaman sekarang membuat skandal perselingkuhan kian mudah dilakukan. Bahkan ada juga kasus perselingkuhan dimana pelakunya tidak sadar bahwa mereka sedang berselingkuh dan mengkhianati pasangannya. Di era internet dan media sosial yang merebak ini, dikenal istilah bernama ‘micro-cheating‘ atau selingkuh mikro.

Melanie Schilling, seorang psikolog asal Australia, menjelaskan apa sebenarnya micro cheating itu. Dilansir Daily Mail, menurutnya, micro cheating bisa dilakukan di mana saja selama itu melibatkan teknologi. Misalnya, di media sosial saat pasangan Anda mengaku dirinya masih single, itu sudah termasuk micro cheating.

Begitu juga saat pasangan mulai mengubah nama kontak teman lawan jenis, meski mereka tidak berselingkuh di dunia nyata, hal ini sudah merupakan tanda pasanganmu melakukan micro cheating. Misalnya mengubah namanya menjadi ‘Teman’, padahal sudah jelas-jelas ‘lebih dari sekadar teman’ atau ‘teman tapi mesra’, demikian dikutip dari laman Kumparan, Jumat (10/08/2018).

Contoh lain dari micro cheating adalah mulai stalking akun media sosial milik mantan kekasih atau orang lain secara terus-menerus dan mengirim pesan bernada mesra. Bahkan menurut Martin Graf, seorang ahli psikologi dari University of New South Wales, Australia, mengirimkan pesan dengan emoji yang bersifat sugestif sudah merupakan tanda adanya ketidaksetiaan.

Selain karena media sosial, micro cheating juga dapat terjadi karena menjamurnya aplikasi kencan (dating apps).

Baca juga: Terbukti! Waspadai Ciri-ciri dan Bahasa Tubuh Orang yang Berselingkuh Ini

Sudah Terjadi Lama

Meski polemik micro cheating baru populer belakangan ini, sebenarnya model selingkuh ini bukanlah sesuatu yang benar-benar baru. Sebelumnya, selingkuh seperti ini sudah dikenal sebagai selingkuh perasaan (emotional affair).

Orang yang melakukan emotional affair ini mungkin tidak melakukan selingkuh fisik, seperti misalnya bersentuhan fisik dengan yang bukan pasangannya. Perselingkuhan model ini hanya dilakukan dalam hati saja—sebatas emosional.

“Kalau orang zaman sekarang saling kirim pesan pribadi atau melalui Facebook, dulu orang sudah diam-diam bertukar pesan cinta atau lirikan mesra,” ujar Susan Whitbourne, Ph.D, dosen psikologi di University of Massachusetts Amherst.

Saat Anda merasa pasangan mulai berselingkuh dengan cara ini, menurut Schilling, sebaiknya berkomunikasilah dengan pasangan. Katakan bahwa perilaku pasangan Anda itu mengganggu hubungan kalian.

Misalnya, Anda bisa mengatakan saat pasangan memakai emoji ‘hati’ di media sosial kepada orang lain, Anda merasa terganggu dan berharap ia tak melakukannya lagi. Jika ia mengikuti kemauan Anda, maka pasangan Anda layak dipertahankan. Jika tidak? Sebaiknya dipertimbangkan lagi.

Selingkuh Virtual Marak Terjadi

Mengutip laman Liputan6.com, sebuah studi menunjukkan bahwa sekitar 23% laki-laki dan 12% perempuan yang sudah menikah pernah berhubungan intim dengan orang lain yang bukan pasangannya.

Pada studi lain yang diterbitkan di tahun 2015 dalam Journal of Sexual and Marital Therapy dan berdasarkan wawancara dengan tujuh pasangan penasihat di Inggris, ditemukan berbagai macam hal yang mendekati atau bisa digolongkan perselingkuhan. Mulai dari sexting (mengirim pesan dengan konten sexual/chat) hingga hubungan seksual langsung.

Hasil studi ini menyatakan bahwa sebuah perilaku dapat dikategorikan perselingkuhan tergantung dari perspektif sebuah pasangan dalam melihatnya. Untuk Micro-cheating sendiri, hal ini sesungguhnya sudah sering terjadi dalam kehidupan percintaan seseorang.

Dilansir dari Time, menurut Lindsey Hoskins, terapis spesialis pasangan di Maryland, micro-cheating mengacu pada perilaku ‘saling menggoda’ yang dilakukan antara dengan perasaan atau tidak dengan perasaan.

Micro-cheating merupakan hal yang tidak terlalu terlihat (tapi dilakukan dengan sadar) dan membuat seseorang terpaut secara emosional, bahkan sampai fisik, dengan orang lain yang bukan pasangannya.

Tapi kembali lagi, menurut Hoskins, micro-cheating ini bisa memliki arti yang berbeda saat dilakukan pada momen yang berbeda, pada orang yang berbeda dan dalam hubungan yang berbeda pula. Jadi bisa dikatakan hal ini tidak selalu dikategorikan selingkuh, tergantung kondisinya.

Kapan Seseorang Melakukan Micro-Cheating?

Jawabannya tentu lewat aktivitas virtual. Saat mulai berkenalan dengan orang asing lewat aplikasi kencan misalnya, lalu berlanjut ke percakapan yang saling menggoda, dan sebagainya yang bisa dibilang di luar batasan. Hoskins juga mengatakan beberapa micro-cheating bisa dilihat dari frekuensi mengirim pesan atau berkomunikasi lewat sosial media yang dilakukan dengan menggunakan ‘perasaan’.

Bagaimana Mengatasi Micro-Cheating?

Micro-cheating sangat berpotensi menjadi perselingkuhan yang sesungguhnya. Cara mengatasinya, menurut Hoskins, adalah dengan berkomunikasi secara aktif dengan pasangan.

Sebuah pasangan harus menentukan apa yang menjadi batasan-batasan dalam hubungan mereka sebelum timbuh permasalahan. Hal ini dapat membantu cegah perselisihan dan perasaan kesal yang akan datang di lain waktu. Ya, kurang lebih untuk bicarakan mana yang okay dan mana yang tidak.

Hoskins melanjutkan, bila salah satu dari kita atau pasangan sudah terlanjur melakukan micro-cheating, ada baiknya dibicarakan baik-baik. Jangan pernah sekalipun untuk mengkonfrontasi satu sama lain, karena justru kita akan merasa tidak nyaman untuk berkomunikasi nantinya.

Dengarkan alasan mengapa micro-cheating bisa terjadi. Tarik kesimpulan yang mungkin juga bisa membuat kita introspeksi dan memiliki komunikasi lebih baik dengan pasangan ke depannya.