Momen SBY-Prabowo Cipika-cipiki Usai Kisruh ‘Jenderal Kardus’


SURATKABAR.ID – SBY dan Prabowo telah bertemu usai kekisruhan ‘jenderal kardus’. Mereka tampak mencapai kesepakatan suara. Sebelumnya, Demokrat dan Gerindra sudah sepakat berkoalisi dengan mengusung Prabowo Subianto sebagai capres. Kesepakatan ini diambil setelah mereka mengadakan sejumlah pertemuan.

Di tengah alotnya koalisi, Wasekjen Demokrat Andi Arief sempat menuding Prabowo sebagai ‘jenderal kardus’. Ia juga menyebut Sandiaga memberikan mahar Rp 500 miliar ke PAN dan PKS untuk jadi cawapres.

Tudingan ini kemudian dibantah oleh para parpol terkait, demikian sebagaimana dikutip dari laporan Detik.com, Jumat (10/08/2018).

Usai deklarasi semalam, Prabowo resmi menggandeng Sandiaga Salahuddin Uno sebagai cawapres. Pagi tadi Prabowo menemui SBY di kediamannya, di Kuningan. Keduanya tampak cipika-cipiki. Kemudian, SBY meneken surat pernyataan yang isinya mengusung Prabowo-Sandiaga ke KPU.

Baca juga: Meski Kecewa, Demokrat Tetap Dukung Prabowo – Sandiaga

Tantangan Ekonomi Untuk Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandi Jika Pimpin RI

Lebih lanjut, perekonomian nasional yang masih terdampak keras oleh ketidakpastian global menjadi tantangan yang harus diselesaikan oleh kedua pasangan calon presiden dan wakil presiden periode 2019-2024. Dalam hal ini Jokowi-Ma’ruf Amin dan Prabowo-Sandiaga Uno.

Sebagaimana disebutkan oleh Direktur Penelitian Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, tekanan global yang dimaksud terkait dengan stabilitas nilai tukar dan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China.

“Tekanan global yang terakhir ini cukup besar, tekanan pelemahan rupiah, perang dagang, itu artinya kemampuan untuk me-manange potensi domestik menjadi kunci di tengah tekanan global yang begitu besar,” ungkap Faisal, Jakarta, seperti dilansir dari detikFinance, Jumat (10/08/2018).

Selain itu, imbuh Faisal, tantangan yang harus diselesaikan oleh capres dan cawapres periode 2019-2024 adalah meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang stagnan di level 5%.

Tak hanya itu, pemerataan ekonomi pun harus terus dilanjutkan, meskipun sampai saat ini kesenjangan dan kemiskinan sudah mulai turun.

“Tapi problem-nya masih banyak yang belum selesai soal pemerataan ekonomi. Itu tantangannya artinya bukan hanya di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri,” tuturnya menjelaskan.

Sementara itu, Josua Pardede selaku Ekonom dari Bank Permata menuturkan, tantangan yang harus diselesaikan oleh capres dan cawapres periode 2019-2024 adalah soal ketergantungan ekonomi nasional terhadap komoditas dasar.

“Permasalahan struktural seperti de-industrilisasi serta peningkatan daya saing ekspor dan peningkatan kualitas SDM perlu dibenahi dengan meneruskan implementasi reformasi struktural dan deregulasi kebijakan ekonomi yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan,” imbuh Josua.