Saat Komunitas Ojol Kian Marak Diincar Parpol

Komunitas pengemudi transportasi online dinilai efektif untuk keperluan kampanye Pilpres 2019


SURATKABAR.ID – Komunitas pengemudi berbasis online yang saat ini semakin besar jumlahnya di Indonesia membuat partai politik memandangnya sebagai ladang suara yang bisa digarap. Hal yang tentu berkenaan dengan Pemilu 2019 ini membuat parpol mendekati salah satu satu komunitas pengemudi berbasis online yakni Asosiasi Driver Online (ADO). Namun, komunitas pengemudi tersebut menolak saat diminta parpol untuk mendeklarasikan dukungannya kepada salah satu kandidat bakal capres.

Menurut pengakuan Ketua Umum ADO Christiansen Ferary Wilmar mengaku komunitasnya pernah menolak tawaran parpol yang meminta mereka deklarasikan dukungan kepada salah satu kandidat bakal calon presiden (capres).

“Secara organisasi kami tidak mengambil posisi untuk mendukung capres-cawapres. Tapi sudah ada [ajakan dari parpol], saya tidak bisa menyampaikan dari parpol mana,” ungkap Christiansen kepada wartawan, Selasa (07/08/2018). Demikian sebagaimana dikutip dari laporan Tirto.ID, Rabu (08/08/2018).

Kendati menolak, Christiansen menyebutkan ADO membebaskan setiap anggotanya menentukan sikap politik. Namun ia mengingatkan setiap anggota ADO tak membawa nama komunitas untuk mendukung salah satu kandidat capres di pemilu nanti.

“Kami kembalikan kepada anggota masing-masing untuk menentukan pilihannya. Anggota diminta tidak membawa ADO dalam memberikan dukungan, tapi pribadi masing-masing saja,” imbuh Christiansen.

Baca juga: Beredar Surat Tulisan Tangan SBY Tunjuk AHY Jadi Cawapres Prabowo, Demokrat Bilang Begini

Hal serupa juga diungkapkan oleh komunitas pengemudi transportasi berbasis online lainnya. Di antaranya yakni Gerakan Aksi Roda Dua (Garda), Perkumpulan Pengemudi Transportasi dan Jasa Daring Indonesia (PPTJDI). Mereka mengklaim tak mau terlibat dalam politik praktis.

Anggota Presidium Garda yang merangkap Ketua Umum PPTJDI Igun Wicaksono berkata sikap organisasinya sudah bulat dan tak akan tergoda ajakan partai politik mendukung kandidat presiden tertentu.

Menurut Igun, komitmen Garda tidak masuk dalam dunia politik sudah tercantum di Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga organisasi itu. Hal serupa juga terjadi di PPTJDI.

Garda murni gerakan aksi roda dua. Aliansi taktis untuk perjuangkan nasib ojek online dan tidak terkait parpol ataupun capres dan cawapres,” kata Igun kepadaTirto.

Sikap serupa dimiliki Aliansi Nasional Driver Online (ALIANDO). Salah satu pengurus ALIANDO, Anggoro, berkata organisasinya tidak akan berpolitik praktis di Pemilu 2019. Anggoro menyebut ALIANDO bukan alat politik meski memiliki massa hingga berbagai daerah. Menurutnya, ALIANDO adalah rumah pengemudi transportasi online yang memperjuangkan kesejahteraan melalui undang-undang.

“Jika ada salah satu anggota ALIANDO berpolitik, itu hanya pribadinya masing-masing dan tidak diperbolehkan bawa nama organisasi,” tandas Anggoro kemudian.

Menggiurkan Untuk Kampanye

Besarnya potensi suara komunitas pengemudi transportasi online untuk pemilu 2019 memang menggiurkan bagi parpol dan para kandidat presiden. Dari kelompok oposisi pemerintah, Partai Keadilan Sejahtera mengaku sudah melakukan pendekatan.

Menurut pengakuan Direktur Pencapresan DPP PKS Suhud Alyuddin, pihaknya sudah mendekati komunitas pengemudi transportasi berbasis online. Targetnya meningkatkan raihan suara partai dan memenangkan capres yang didukung partai pada Pemilu 2019.

“Saya kira semua elemen masyarakat yang potensial akan menjadi sasaran kampanye. Memang belum sampai ke tahap itu [deklarasi formal dukungan komunitas], saat ini masih tahap pembentukan tim kampanye,” ujar Suhud.

Manuver PKS juga dilakukan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Partai yang berada di barisan koalisi pendukung Jokowi ini juga sudah dan terus mendekati komunitas-komunitas pengemudi transportasi berbasis online.

“Ada rencana mendekati kelompok pengemudi transportasi online. Kalau saya di Kalimantan Barat sudah mulai itu,” tutur Wakil Sekjen PKB Daniel Johan.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review Ujang Komarudin menilai wajar jika partai politik mendekati komunitas pengemudi transportasi berbasis online.

“Selain karena jumlahnya yang banyak, mereka merupakan simbol perjuangan rakyat kecil yang mencari nafkah untuk keluarganya,” ucap Ujang, Selasa (07/08/2018).

Disebutkan Ujang, komunitas pengemudi transportasi berbasis online memiliki sedikitnya dua kelebihan untuk digunakan sebagai alat kampanye.

Pertama, anggota komunitas itu merupakan orang yang kerap bepergian. Daya tempuh pengemudi transportasi online bisa digunakan untuk berkampanye masif dari satu titik ke titik lain. Kedua, komunitas itu mempunyai jaringan yang luas dan kedekatan emosional antar anggotanya.

“Kuatnya jaringan yang mereka miliki membuat para politikus banyak yang mendekati,” sebut Ujang.