Mahfud MD Sebut Ahok Tak Bisa Maju Jadi Capres, Cawapres, Atau Menteri Sekalipun


SURATKABAR.ID – Mahfud MD yang merupakan pakar hukum tata negara dan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), menanggapi mengenai spekulasi Basuki Tjahaya Punama (Ahok) yang masuk dalam survei tokoh paling populer dalam calon presiden (capres) 2019.

Pasca menjadi terdakwa kasus penistaan agama, elektabilitas Ahok sebagai politikus pun tidak sepenuhnya menurun, seperti yang dilaporkan tiga lembaga survei yakni Poltracking Institute, Indo Barometer, dan Median. Namun, menurut Mahfud MD, kesempatan Ahok sudah tertutup untuk menjadi capres, calon wakil presiden (cawapres), maupun menteri sekalipun, seperti dilansir dari laporan TribunNews.com, Jumat (20/07/2018).

“Tidak bisa (mencalonkan) kalau untuk presiden dan wakil presiden, karena dia (Ahok) dihukum dua tahun, dalam satu tindak pidana yang diancam dengan lima tahun atau lebih, itu sudah pasti tidak bisa, jadi menteri juga tidak bisa,” ungkap Mahfud MD dalam tayangan Aiman Kompas TV yang dipublikasikan Youtube, Selasa (26/06/2018) lalu.

Akan tetapi, Mahfud melanjutkan, Mahkamah Konstitusi (MK) memiliki vonis tertentu untuk pemilihan kepala daerah (pilkada). Vonis MK dahulu menyatakan bahwa orang yang sudah keluar dari tahanan bisa mencalonkan diri.

Kini, keputusan MK tersebut telah tertuang dalam UU Pilkada yang mengungkapkan bahwa terdakwa yang keluar tahanan harus mengakui dirinya pernah menjadi mantan tahanan tanpa dibatasi waktu lama tahanan oleh MK.

Baca juga: Survei Terbaru LIPI: Elektabilitas Jokowi Masih Teratas, Tapi Belum Aman

Hal itu tidak berlaku bagi capres, cawapres, maupun menteri.

“Jadi gubernur, wakil gubernur, walikota, bupati, tidak ada masalah?” tanya Aiman.

Mahfud menjawab tak ada masalah jika Ahok mencalonkan diri untuk jabatan-jabatan tersebut.

“Presiden, wakil presiden, menteri tidak bisa karena undang-undangnya berbeda dan setiap pengujian MK itu hanya berlaku untuk undang-undang yang bersangkutan,” jawab Mahfud MD.

Hasil Survei SDI

Sebelumnya, sebagaimana dikutip dari laman Tempo.co, nama mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) masuk dalam peringkat lima tertinggi bursa calon presiden 2019 dalam survei yang dilakukan Sinergi Data Indonesia di Provinsi Sulawesi Selatan.

Menurut Direktur Ekskutif SDI Barkah Pattimahu survei dilaksanakan di 21 Kabupaten dan 3 kota dengan Jumlah responden 1.000 orang.

“Adapun margin of error 3,16 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen,” kata Barkah Pattamahu di kawasan Tebet, Jakarta, Minggu (11/07/2018).

Dalam survei itu diajukan pertanyaan, jika pemilihan presiden dilakukan hari ini, siapa nama calon yang dipilih. Ada 9 nama yang diajukan antara lain Joko Widodo (Jokowi), Prabowo Subianto, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Surya Paloh, Ahok, hingga Anies Baswedan.

Nama Jokowi masih berada di posisi teratas sebesar 53,80 persen. Menyusul di bawah Jokowi, Prabowo Subianto sebesar 20,10 persen, dan di urutan ketiga ada nama Surya Paloh dengan 2,30 persen, sedangkan AHY mendapat 1,50 persen. Adapun Ahok berada di posisi lima dengan raihan 1,20 persen.

Ahok saat ini sedang menjalani vonis dua tahun penjara dalam kasus penodaan agama. Ahok yang ditahan di Mako Brimob sejak Mei 2017 kini sedang mengajukan Peninjauan Kembali ke Mahkamah Agung.

Dalam survei yang digelar Indo Barometer pada akhir tahun lalu, nama Ahok menempati posisi nomor empat dalam survei elektabilitas tokoh menjelang Pemilihan Presiden 2019.

Ahok mendapat 3,3 persen dari total 1.200 responden di 34 provinsi dalam survei yang dilakukan 15-23 November 2017 itu. Sedangkan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, yang mengalahkan Ahok secara mengejutkan pada Pilkada 2017, hanya selisih 0,3 persen dari Ahok dengan perolehan 3,6 persen.

Dalam survei terbaru dari Sinergi Data Indonesia, nama Anies Baswedan mendapat 0,90 persen, sama dengan Gatot Nurmantyo. Sedangkan Muhaimin Iskandar mendapat 0,10 persen. Yang belum menjawab sebesar 18,00 persen.

Dikatakan Barkah, responden dipilih dengan menggunakan metode multistage random sampling atau dengan tatap muka.